Beranda > Nasehat > Akhi… Apa Susahnya Kau Hapus Akhwat dari Friendlist Facebookmu?

Akhi… Apa Susahnya Kau Hapus Akhwat dari Friendlist Facebookmu?

[Renungan untuk Ikhwan-Akhwat Pengguna Facebook: bagian I]

alashree.wordpress.com

Penyusun: Abu Muhammad Al-Ashri

Muraja’ah dan koreksi ulang: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar

.

Akhi…

Bila kita sempatkan diri kita untuk membaca sejarah hidup para pendahulu kita yang shalih mulai dari masa shahabat hingga para ulama salafi, niscaya kita dapati akhlak, adab, dan ketegasan mereka yang menakjubkan. ‘Kan kita jumpai pula indahnya penjagaan diri mereka dari aib dan maksiat. Merekalah orang-orang yang paling bersegera menjauhi maksiat. Bahkan, sangat menjauh dari sarana dan sebab-sebab yang mendorong kepada perbuatan maksiat.

Bila kita membaca kehidupan anak-anak atau para remaja di masa salaf, niscaya kita dapati mereka adalah darah-darah muda yang tampak kecintaannya terhadap din, semangatnya dalam membela al-haq, dan sikap bencinya kepada perbuatan dosa. Maka, kita dapati mereka di usia muda, sudah memiliki hafalan Al-Qur’an, semangat yang besar untuk berjihad, dan kecerdasan yang menakjubkan.

Sebaliknya, sungguh sangat sedih hati ini. Tidakkah kita merasakan bahwa kaum muslimin saat ini terpuruk, terhina dan tidak berdaya di hadapan orang-orang kafir, padahal jumlah kita banyak? Lihatlah diri kita! Bandingkan diri kita dengan para pemuda di masa salaf! Akhi… saya, antum, kita semua pernah bermasiat. Namun, sampai kapan kita bermaksiat kepada-Nya?

.

Saya tidak mengharamkan antum berdakwah kepada wanita, karena Nabi pun berdakwah kepada wanita!

Saya pun tidak mengharamkan muslim atau muslimah memanfaatkan facebook, karena untuk mengharamkan sesuatu membutuhkan dalil.

Siapa yang melarangmu mendakwahi mereka akhi…?

Bahkan, dulu kumasih berprasangka baik padamu bahwa kau ‘kan dakwahi teman-teman lamamu, termasuk para wanita itu…

Namun, yang terjadi adalah sebagaimana yang kau tahu sendiri…

Tak perlu kutulis…

Karena kau pasti tahu sendiri…

.

Catat! Tak kubuka friendlist FB-mu karena aku tak mencari-cari aibmu…

Namun, tidakkah kau sadar bahwa FB itu sangat-sangat terbuka?

Hingga dirimu sendiri yang tak sadari…

Bahwa tingkah lakumu pada para akhwat itu,

Dapat dilihat kawan-kawanmu yang lain, termasuk diriku…

Yang inilah sebab yang mendorongku menorehkan pena dalam lembaran-lembaran ini…

Duh….

Betapa sering Allah menutupi aib seorang hamba…

Namun dirinyalah sendiri yang membongkar aibnya…

.

Ya Allah…

Kuadukan kesedihan hatiku ini hanya kepadaMu…

Hanya kepadaMulah kuserahkan hatiku…

Mudah-mudahan Kau mendengar doaku…

Dan Kau maafkan kesalahan kawan-kawanku itu…

Di samping ku terus berhadap agar Kau pun maafkan diriku…

.

Akhi…

Pernahkah kau baca firman Allah yang menyinggung “mata yang berkhianat”?

Baiklah, kita periksa kembali. Allah berfirman dalam surat Al-Mukmin: 19

يعلم خاينة الأعين

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang berkhianat

Nah, apakah yang dimaksud dengan mata yang berkhianat itu? Akhi, sesungguhnya Al-Qur’an itu turun di masa para shahabat. Shahabat Nabilah yang paling mengerti makna Al-Qur’an karena mereka hidup bersama Nabi, langsung mendapat bimbingan dan pengarahan Nabi. Maka, kini kan kubawakan tafsir Ibnu Abbas, sebagai hadiahku untukmu.

Akhi ingat kan siapa Ibnu Abbas? Na’am! Dia adalah ahli tafsir dari kalangan shahabat Nabi. Kudapatkan tafsir ini dari Abul Faraj Al-Jauzy (Ibnul Jauzy), dalam kitab beliau,ذم الهوى. Ibnu Abbas berkata

الرجل يكون في القوم فتمر بهم المرأة فيريهم أنه يغض بصره عنها فإن رأى منهم غفلة نظر إليها فإن خاف أن يفطنوا إليه غض بصره وقد اطلع الله عز وجل من قلبه أنه يود أنه نظر إلى عورتها

“Seseorang berada di tengah banyak orang lalu seorang wanita melintasi mereka. Maka, ia memperlihatkan kepada kawan-kawannya bahwa IA MENAHAN PANDANGANNYA DARI WANITA TERSEBUT. Jika ia melihat mereka lengah, ia pandangi wanita tersebut. Dan jika ia khawatir kawan-kawannya memergokinya, ia menahan pandangannya. Padahal, Allah ‘azza wa jalla mengetahui isi hatinya bahwa ia ingin melihat aurat wanita tersebut .”

.

Camkan itu akhi…!

Kita sudah lama mengenal Islam…

Kita sudah lama ngaji…

Apakah seseorang yang sudah lama ngaji pantas seperti itu?

Inginkah akhi dikenal manusia sebagai pemuda yang shalih…

Yang senantisa menundukkan pandangan di alam nyata…

Namun kau berkhianat dengan matamu…

Kau tipu kawan-kawanmu yang berprasangka baik kepadamu…

Tidakkah ‘kau malu kepada Allah…

Yang melihatmu di kala tiada orang lain di sisimu selain laptopmu, komputer, atau HP-mu?

Yang dengan laptopmu kau bisa pandangi wanita sesuka hatimu…?

Yang komputermu  kau bisa sapai mereka sepuasmu..?

Yang HP-mu kau bisa berbincang-bincang dengan mereka sekehendakmu…?

.

Akhi…

Janganlah ‘kau marah padaku…

Marahlah pada Ibnu Abbas jika kau mau…

Karena dialah yang menjelaskan arti mata khianat kepadaku…

.

Akhi…

Jika kau malu bermaksiat di hadapan kawan-kawanmu, apalagi di hadapan para wanita itu…

Ketahuilah bahwa

قلة حيائك ممن على اليمين وعلى الشمال وأنت على الذنب أعظم من الذنب

Sedikitnya rasa malumu terhadap siapa yang berada di sebelah kanan dan sebelah kirimu, saat kamu melakukan dosa, itu lebih besar daripada dosa itu sendiri!

Eits… sebentar akhi, jangan marah dulu. Itu di atas bukan ucapan saya, tetapi ucapan Ibnu Abbas! Silakan lihat di ذم الهوى halaman 181.

.

Akhi…

Apakah engkau masih sempat-sempanya tertawa, melempar senyum pada akhwat itu, meski sebatas:

simbol ^__^

atau kata-kata: xii…xiii..xii..,

atau: hiks..hiks…hiks…,

atau: hiii..hi..hi..,

atau: ha..ha..ha…,

atau: so sweet ukhti…,

atau sejenisnya yang kau tulis di wall-wall atau ruang komentar Facebook para akhwat itu!

Maka, Ketahuilah bahwa

وضحكك وأنت لا تدري ما الله صانع بك أعظم من الذنب

Tertawa saat kamu tidak tahu apa yang akan Allah perbuat terhadapmu, ITU LEBIH BESAR DARIPADA DOSA ITU SENDIRI!”

dan juga

وفرحك بالذنب إذا ظفرت به أعظم من الذنب

Kegembiraanmu dengan dosa ketika kamu melakukannya, ITU LEBIH BESAR DARIPADA DOSA ITU SENDIRI”

Afwan akhi jika antum mulai emosi (semoga tidak). Jangan lihat saya karena dua kalimat di atas bukan ucapan saya, tetapi ucapan Ibnu Abbas pula, afwan.

.

Akhi…

Kalau antum masih bermudah-mudahan dalam berfacebook ria dengan para wanita itu,

Ketahuilah bahwa antum adalah pengecut!

Karena kalau kau berani, kau kan temui ayahnya dan kau pinang dirinya…

Kalaupun hartamu tidak mendorongmu untuk itu…

Kau tetap pengecut karena kau hanya “tunjukkan perhatian”…

Sementara kau tidak berani “maju melangkah”…

Jika kau mampu tahan pandanganmu dari “bunga-bunga” facebook itu, barulah kau ini seorang pemberani!

Sabar dulu akhi, jangan marah dulu. Siapa saya? Saya ini masih sama-sama belajar seperti antum, atau malah saya masih tergolong anak “baru ngaji”. Namun, mohon jikalau akhi menolak ucapan saya, perhatikanlah untaian kata yang dikutip Ibnul Jauzi di bawah ini..

ليس الشجاع الذي يحمي مطيته … يوم النزال ونار الحرب تشتعل

لكن فتى غض طرفا أو ثنى بصرا … عن الحرام فذاك الفارس البطل

Pemberani bukanlah orang yang melindungi tunggangannya

Pada saat peperangan, ketika api berkobar

Akan tetapi, pemuda yang menahan padangannya dari yang diharamkan

Itulah prajurit yang ksatria!


Akhi…

Sekali lagi, kalau kau tersinggung dengan ucapanku. Mohon janganlah kau lihat siapa saya, kawanmu ini. Saya tidak ada apa-apanya. Namun, sekali lagi, kumohon lihatlah siapa orang yang perkataannya kuhadirkan padamu. Salaf memberi nasehat kepada kita dengan untaian katanya di bawah ini:

فتفهم يا أخي ما أوصيك به إنما بصرك نعمة من الله عليك فلا تعصه بنعمه وعامله بغضه عن الحرام تربح واحذر أن تكون العقوبة سلب تلك النعمة وكل زمن الجهاد في الغض لخطة فإن فعلت نلت الخير الجزيل وسلمت من الشر الطويل

“Pahamilah wahai saudaraku apa yang aku pesankan kepadamu…

Penglihatanmu tidak lain adalah nikmat dari Allah atasmu…

Janganlah mendurhakai-Nya dengan menggunakan nikmat-Nya….

Perlakukanlah penglihatan tersebut dengan menahannya dari yang haram,

Maka kamu beruntung.

Jangan sampai engkau mendapat sangsi berupa hilangnya kenikmatan itu.

Waktu berjihad untuk menahan pandangan adalah sejenak.

Jika kau melakukannya, kau ‘kan dapatkan kebaikan yang banyak,

dan selamat dari keburukan yang panjang.”

[lihat ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 143 ]

Akhi…

Sekali lagi, demi Allah, saya tidak melarangmu untuk berdakwah, termasuk dakwah kepada wanita. Sudah kuterangkan di atas bahwa Nabi pun berdakwah kepada wanita.

Namun, wahai akhi…

Antum memiliki kewajiban yang besar sebelum antum berdakwah, yaitu ilmu! Sudahkah kita berdakwah dengan ilmu? Akhi ini kutujukan pula untuk diriku: Manakah waktu yang lebih banyak kita habiskan? Mendakwahi wanita itu, atau waktu kita dalam mengikuti majelis ilmu? Silakan kita jawab sendiri.

.

Akhi…

Laki-laki memang tidak dilarang bahkan bisa diwajibkan mendakwahi wanita, sebagaimana yang Nabi dan para shahabat lakukan…

Namun, mendakwahi mereka tidak harus lewat facebook kan? Antum bisa membuat blog/webiste yang dari situ antum bisa menulis risalah. Antum bahkan bisa berbicara di alam nyata jika diperlukan, selama tidak ada khalwat. Namun, tidakkah kita ingat bahwa para shahabat menimba ilmu dari istri Nabi tidak berhadapan langsung, tetapi di balik tabir?

Jika ingin berdakwah, antum bisa menukilkan artikel bermanfaat, lalau kau cantumkan di facebookmu.. Antum juga bisa membuat page, atau grup yang dengannya kau bisa kirimkan artikel kepada kaum muslimin atau muslimah sehingga bisa membaca nasehatmu. Itu saja! Lalu kau log-out dari FB. Selesai kan? TANPA KITA HARUS MELIHAT-LIHAT LAWAN JENIS dan berbincang-bincang dengannya.

Akhi… di saat antum akan mendakwahi wanita, di saat itu pula antum harus menjaga diri antum untuk jauh.. menjauh sejauh-jauhnya dari pintu fitnah!

Tidak ingatkah akhi bahwa para shahabat ketika ingin menimba ilmu kepada para istri nabi, mereka lakukan di balik tabir? Di balik tabir akhi…! Bukan melihat wajah-wajah wanita yang kau add di facebookmu itu!

.

Akhi…

Jangan kau anggap ini kaku. Kalau akhi tidak percaya. Silakan periksa sendiri. Demi Allah, silakan periksa sendiri para akhwat teman-teman lama antum ketika di SLTP / SMU dulu, termasuk di kampusmu  yang kau add di FB-mu.

Berapa di antara mereka yang menerima nasehatmu dalam praktik yang nyata?

Hingga para akhwat tersebut memakai hijabnya…

Menutupi wajahnya dari pandanganmu…

Meninggalkan maksiat-maksiat karena menrima nasehatmu..

Atau akhwat-akhwat itu hanya katakan,

“Subhanallah akhi…,

bagus sekali nasehatnya….,

izin share ya….

Saya di-tag dong…

Kok ana tidak di-tag akhi…?

Makasih ya bang telah di-tag…

Jangan bosan-bosan nasehatin ana…”


Bah! Jangan terburu-buru kau biarkan hatimu berbunga-bunga dengan kata-kata di atas akhi, karena

و خلق الإنسان ضعيفا

“Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah”

(Q.S. An-Nisa’: 28)

maka ingatlah bahwa jika akhwat itu bisa berkata-kata lembut kepadamu, padahal dia bukan istrimu, tentu dia pun akan bersikap demikian pada laki-laki lain, selain dirimu!

أفق يا فؤادي من غرامك واستمع … مقالة محزون عليك شفيق

علقت فتاة قلبها متعلق … بغيرك فاستوثقت غير وثيق

Sadarlah wahai hati dari kasmaranmu, dan dengarkan!

Ucapan kesedihan dan kasihan kepadamu…

Kamu terpikat dengan gadis yang hatinya terpikat dengan selainmu!

.

Akhi….

Sebelum kau terpukau dengan gaya bahasa para akhwat itu, ingatlah bahwa  Nabi memberikan peringatan kepada kita

ما تركت بعدي فتنة أضر على الرجال من النساء

”Aku tidak meninggalkan sepeninggalku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki ketimbang wanita”

[ H.R Bukhari dan Muslim ]

.

Akhi…

Apakah kau tidak merasakan kesedihan sebagaimana yang kurasakan? Akhi… Bagaimana mata ini tidak mengalir di saat kita baca pesan istri Nabi, Aisyah, berkata,

لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء اليوم لنهاهن عن الخروج أو حرم عليهن الخروج

“Seandainya Rasulullah melihat apa yang diperbuat kaum wanita pada hari ini, niscaya beliau melarang mereka keluar rumah atau mengharamkan mereka keluar rumah

[lihat beserta sanadnya di  ذم الهوى , karya أبو الفرج عبد الرحمن بن أبي الحسن الجوزي, hal. 154][1]

Ya.. Allah, ‘afallahu ‘anhunna

.

Akhi… Kapan Aisyah (radhiyallahu ‘anha) mengatakan demikian? Kapan…? Kapan…? Lebih dari seribu tahun yang lalu, akhi, di saat Islam masih di puncak kejayaannya, di saat para shahabat yang menerima langsung pengajaran nabi masih hidup.

.

Duhai Ibunda, Aisyah….

Kau katakan demikian…

di kala Nabi belum lama wafat meninggalkan dirimu…

di kala para shahabat terbaik masih hidup di antaramu..

Kau katakan demikian…

di kala para wanita masih tutupi dirinya dengan hijab kemuliaan

Aku tahu tak tahu apa yang ‘kan kau katakan…

Jika kau hidup di masa kami…

Di saat kami tenggelam dalam kotornya dunia…

Di saat manusia menghiasi dirinya dengan tipisnya rasa malu…

Di saat kaum wanita ceburkan dirinya dalam alam tabu…

.

Maka, demikian pula Engkau wahai saudariku muslimah! Jikalau tulisan ini sampai kepadamu, mengapa tidak kau katakan kepada kami, para laki-laki, suatu ucapan yang kami justru bangga mendengarnya jika kau ucapkan:

إليك عني! إليك عني! … فلست منك و لست مني

Menjauhlah kau dariku…! Menjauhlah kau dariku…!

Karna aku bukan milikmu…

Dan kau pun bukan bagian dari ku…

Ya ukhti…

Mengapa mau add, atau kau terima permintaan pertemanan facebook dengan para laki-laki, sementara ia bukan milikmu?

Belumkah kau ketahui tahu bahwa

إن الرجال الناظرين إلى النساء

مثل السباع تطوف باللحمان

إن لم تصن تلك اللحوم أسودها

أكلت بلا عوض و لا أثمان

Laki-laki ketika melihat wanita…

Seperti bintang buas ketika melihat daging…

Jika daging-daging itu tidak disimpan dengan rapi…

Ia ‘kan dibabat tanpa konpensasi apapun dan tanpa harga…

.

Ya ukhti…

Belumkah sampai kepadamu pesan Nabi kita?

يا معشر النساء تصدقن وأكثرن الاستغفار فإني رأيتكن أكثر أهل النار

Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar! Sesungguhnya aku melihat kalian sebagai penghuni mayoritas di neraka.

(H.R. Muslim: 132)

Wahai ukhti…

Tidakkah kau ingat bahwa kau pun diperintah untuk menahan pandanganmu?

وقل للمؤمنات يغضضن من أبصارهن ويحفظن فروجهن ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها وليضربن بخمرهن على جيوبهن

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka! Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka! Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka!”

(Q.S. An-Nuur: 31)

—bersambung—

Ahad, 14/11/1430 – 1 November 2009

Ba’da shuhuh yang cerah di Masjid Al-‘Ashri,

Menjelang dimulainya kajian kitab Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqad

.

CATATAN KAKI:


[1] Terdapat riwayat dari Aisyah yang mirip dengan atsar di atas, yaitu dalam shahih Muslim (cetakan دار إحياء التراث العربي – بيروت Juz I, hal. 445, hadits nomor 144):

 

عن عمرة بنت عبدالرحمن أنها سمعت عائشة زوج النبي صلى الله عليه وسلم تقول

: لو أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رأى ما أحدث النساء لمنعهن المسجد كما منعت نساء بني إسرائيل قال فقلت لعمرة أنساء بني إسرائيل منعن المسجد ؟ قالت نعم

lihat pula lafadz ini dalam :

  1. Musnad Ahmad bin Hambal (cetakan مؤسسة قرطبة – القاهرة ) Juz VI, hal. 193, hadits nomor 25.651
  2. Musnad Ishaq bin Rahwiyah (cetakan  مكتبة الإيمان – المدينة المنورة), Juz II, hal. 148, hadits nomor 639; dan Juz II, hal. 426, hadits nomor 897.

  1. joni (abu hamzah)
    November 1, 2009 pukul 22:42 | #1

    ya allah ampuni dosa2 ku………
    ana akan hapus ahwat…………yang ku add
    kecuali keluarga ku untuk komunikasi aja
    terima kasih ustad ………….. atas artikelnya
    semoga ini bermanfaat untuk ana dan temn2 ana

  2. November 1, 2009 pukul 22:54 | #2

    بارك الله فيك و أحبك في الله

  3. Hamba Alloh
    November 2, 2009 pukul 02:26 | #3

    Bismillaah…

    Jazaakallohu khoyron atas ilmunya.
    Saya Akhowat. Sejujurnya niat saya ber-Facebook adalah untuk BELAJAR, menjalin ukhuwah, dan mencari jaringan bisnis. Saya banyak belajar tentang agama (dan beberapa ilmu lainnya) dari teman-teman semua (baik dari status, Notes, maupun komen-komen yang ada). Begitu interaktif dan langsung mendapat jawaban. Membuka wawasan untuk memahami sudut pandang yang berbeda, yang seringkali hal itu tidak saya temui di BLOG-BLOG PRIBADI.

    ‘Afwan, saya tidak menentang atau menolak tulisan Akhi. Itu ulasan/ungkapan/renungan yang sangat bagus. Dan saat ini saya masih merenung… jika semua kontak ikhwan yang ada di list saya hapus… kemana saya harus mencari/bertanya/mempelajari ilmu yang lebih dalam lagi?

  4. Prasetyo Muchlas
    November 2, 2009 pukul 05:45 | #4

    Assalamu’alaikum wa rohmatulloh wa barokatuh
    Jazakallohu khoiron atas tulisannya, sungguh agama itu nasihat..

  5. Abu Yazid Arriandhana
    November 2, 2009 pukul 05:57 | #5

    Jazakallahu khoiron,
    Ada alternatif lain agar tetap terkonek dengan “mereka” tanpa melihat “bunga bunga FB” itu.
    =Untuk mozilla firefox untuk akses FB.
    Klik “tools” (muncul dropdown)
    klik option (muncul dialog box)
    lalu klik tab “content”.
    di bagian “Load image automatically” klik “exception”. Masukan http://www.facebook.com lalu klik block.
    Sejak antum lakukan itu semua gambar dari FB tidak akan muncul.
    saran ana, hindari simbol2 dan teks yang mudah mengguncang hatimu.
    *sementara ana pilih jalan ini, mohon koreksi jika ini masih salah* di internet sulit menghindari gambar wanita karena tetap saja iklan dari pemilik situs ini menggunakan “mereka”. Atau pergi jauh2 dari FB ?

  6. ummu rufaidah
    November 2, 2009 pukul 06:29 | #6

    Assalamu”alaykum Warahmatullohi Wabarakatuh
    Afwan…bolehkah ana cofy nasehat diatas untuk disebarkan kepada teman-teman akhwat ana?
    Jazakallohu Khairon katsiir.

  7. Abu Rayhan
    November 2, 2009 pukul 07:02 | #7

    Jazakallah khair ustad… atas nasehatnya..
    tp bagaimana kalo akhwat yg kita add tidak memakai fotonya hanya berupa gambar bunga dll. ana mode off kan aja ruang chattnya? Jazakallah khair..

  8. imam alfaruq
    November 2, 2009 pukul 08:57 | #8

    astaghfirullah..hal ‘azim..
    ustadz, mengapa diri ini masih lemah…?
    komunikasi jarak jauh masih saya butuhkan ustadz, karena kami punya urusan trans region. undip, ugm, ui, uns, ums dll. ikhwan akhwat ada di masing2 kampus n di fb inilah salah satu wadah yang murah untuk berkomunikasi, semisal suro’ dll, mohon masukan dan saran ustadz, syukron jazilan

  9. hendra
    November 2, 2009 pukul 09:00 | #9

    tolong ya akhi…
    kita ini hidup bersosialisasi!
    semua orang punya pandangan sendiri2
    iya sih memang benar apa yang antum katakan,
    tapi gimana ya kok susah banget..
    udah pernah hidup di zaman purba ya? kok bisa bilang kayak gitu
    wah salut aku…
    ditunggu sambungannya.
    semoga lebih bermanfaat lagi.

    catatan penting “jangan su’udzon sama temen2 antum, mungkin mereka punya pandangan lain yang tidak diketahui oleh antum. pendekatan dakwahnya kan juga beda..”
    matur nuwun yo..

    ngefans blog ini banget..!!!

  10. hendra
    November 2, 2009 pukul 09:07 | #10

    perlu dicamkan “MEmberitahu orang dari tidak tahu menjadi tahu apa salah????”
    hargain lah niatnya untuk berdakwah!!!
    perkara nanti ada penyimpagan2 kaya’ gitu ya tergantung orangnya!!
    toh orang itu tdk terbebas dari maksiat..!!!!
    JANGAN EGOIS!!!!
    Coba deh 1 bulan, antum nyoba tinggal di jamil atau binbaz atau pesantren2 lain yang bener2 mempraktikkan kata2 antum.

    COBA DULU, Jangan terlalu Kaku..

  11. hendra
    November 2, 2009 pukul 09:10 | #11

    memang benar , hasilnya temen2 wanita itu tidak langsung misalnya berhijab syar’i atau yang lainnya. ITU BUTTUH PROSES dan WAKTU. Siapa tahu dengan mereka membaca sedikit ilmu yang kita tuliskan di status atau note mereka jadi tahu, bukan tidak tahu sama sekali.
    ‘afwan ya..
    gue suka gaya loe.^_^

  12. hendra
    November 2, 2009 pukul 09:14 | #12

    so sweet akhi…^_^

  13. Sunaryo
    November 2, 2009 pukul 09:17 | #13

    Assalamu’alaikumwarahmatulloh.Ijin share ya akh?

  14. November 2, 2009 pukul 12:34 | #14

    # Hamba Allah

    => Sebaik-baik guru bagi wanita adalah ayahnya. Setelah itu (Setelah menikah) sebaik-baik guru bagi wanita adalah suaminya.

    => Sebenarnya, yang saya kritisi bukan pada dakwah muslim kepada muslimah, atau sebaliknya. Bukankah saya sudah tuliskan di atas bahwa Nabi pun berdakwah kepada wanita, dan shahabat pun menimba ilmu kepada ‘Aisyah?”

    => Hal yang mendorong saya tulis risalah ini adalah mulainya manusia bermudah-mudahan dalam ber-facebook, khususnya dalam berkomunikasi dengan lawan jenis. Catat: bukan dakwah kepada lawan jenis, yang salah satunya dengan sarana FB yang saya kritisi, namun munculnya fenomena mulai bermudah-mudahnnya saling berkomunikasi antar lawan jenis yang saya kritisi, termasuk mulai hilangnya rasa cemburu dalam hati-hati mareka.

    => Sekarang, saya tanya kepada Ibu (baarakallah fiik)

    “Kalau suami ibu banyak berkomunikasi dengan wanita lain selain Anda, apakah Anda tidak cemburu?”

    Kalau Anda tidak cemburu, INILAH MUSIBAH. Insya Allah, jika dimudahkan Allah, akan saya turunkan risalah tentang “Cemburu: Sifat Mulia yang Dilupakan”

  15. November 2, 2009 pukul 12:53 | #15

    @ Hendra

    لو كنت تعلم ما أقول عذرتني

    أو كنت أعلم ما تقولو عذلتكا

    لكن جهلت مقالتي فعذلتني

    Andai ‘kau paham apa yang kuucapkan,
    Niscaya ‘kau ‘kan maafkan diriku…

    Atau ‘ku tahu ucapanmu,
    Maka ‘ku kritik dirimu…

    Namun, ‘kau ‘tak pahami untaian kataku,
    Hingga ‘kau cela diriku…

    Komentar-komentar antum akan saya sanggah dengan qoul salaf (artikel lanjutan). Aduhai, seandainya kau bantah aku dengan qoul salaf pula…

    Saya ingatkan antum pada ucapan antum: udah pernah hidup di zaman purba ya? kok bisa bilang kayak gitu
    => ittaqillah ya akhi… Semua ucapan kita akan dimintai pertanggungjawabannya!

    Saya ingin sampaikan kata terakhir bahwa Al-Jazaa’u min jinsi al-’amal. Kalau target antum dapat “bunga” yang bermudah-mudahan dengan antum yang bukan mahramnya di FB, saya khawatir kau pun dapat “bunga” yang serupa, yaitu wanita yang bermudah-mudahan berkomunikasi dengan laki-laki selain antum.

  16. Akhina Ifa
    November 2, 2009 pukul 13:01 | #16

    Syukran jazakumullahu Khairan

  17. November 2, 2009 pukul 13:03 | #17

    @ Hendra

    kata antum:

    “Coba deh 1 bulan, antum nyoba tinggal di jamil atau binbaz atau pesantren2 lain yang bener2 mempraktikkan kata2 antum.”

    Saya jawab: Kita semua pernah bermaksiat akhii… Namun, apakah kita ‘kan terus menerus bermaksiat kepada-Nya setelah datang dari kita dalil dan nasehat ulama? Jangan lihat saya akhi, lihat siapa yang perkataannya saya nukilkan (baarakallah fiik).
    Dan yang pasti, jika yang kau katakan di atas benar (sekali lagi jika benar), saya katakan: Pesantren x, pesantren Y, ustadz x, ustadz Y, atau bahkan syaikh pun SEMUANYA BUKAN DALIL!!! Karena dalil adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    Duh, seandainya kau bantah diriku dengan nukilkan kalamullah dan pesan Nabi-nya yang mulia…

    Afwan akhi! Saya tulis ini sudah tahu resikonya, yang munmgkin kan dicela kawan-kawannya sendiri ! Namun, tidakkah kau ingat bahwa

    إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْمُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوا أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ
    “Sesungguhnya manusia apabila mereka melihat kemungkaran kemudian mereka tidak mengubahnya, nyaris Allah meratakan adzab-Nya kepada mereka” [ H.R Ahmad ]

    Silakan sanggah saya akhi, dengan catatan: BAWAKAN DALIL AKHI….. BUKAN RA’YU ANTUM SEMATA!
    Baarakallah fiik….

  18. AbuNajwa
    November 2, 2009 pukul 15:51 | #18

    Assalamualaikum…
    Salam kenal
    Terima kasih, artikelnya sangat bagus. Ana tunggu lanjutannya.
    Wassalam…

  19. Brayan
    November 2, 2009 pukul 18:01 | #19

    Jazaakallahu khairan,,,
    Khoirun naasi anfa’uhum linnaas.

  20. ganden
    November 2, 2009 pukul 18:41 | #20

    Yang jelas, sebaiknya para akhwat jgan terlalu narsis lah…he..hehe..bagaimanapun pria itu mudah tergoda, Harta, jabatan, wanita….emhh….dan ternyata byk yg lolos dengan harta dan jabatan tetapi tergoda oleh wanita… yah lebih baik kalo ada ahwat yag cantik, jgn diperlihatkan…buktinya pasti banyak komen…. nah…lho

  21. Abu Yazid Arriandhana
    November 2, 2009 pukul 20:17 | #21

    @Al Akh أبو محمد العصري : kini ku tahu maxudmu. Insya Allah kutunaikan maxud-mu walaupun BELUM dengan menghapus mereka..ingatkan aku terus wahai ikhwah fillah.
    Jazakallahu khoiron

  22. November 2, 2009 pukul 20:33 | #22

    @ Abu Yazid

    Seorang muslim itu memang saling nasehat-menasehati dalam kebaikan.

  23. November 2, 2009 pukul 20:40 | #23

    @ Hamba Allah dan Segenap pembaca

    => Yang saya kritisi: bukan dalam hal dakwah muslim kepada muslimah, atau sebaliknya. bukan pula dalam hal perniagaan yang memungkinkan dalam kondisi tertentu untuk berinteraksi dengaan lawan jenis. Bukan ini yang saya kritisi

    => Saya juga tidak mengharamkan seorang muslim/muslimah memanfaatkan facebook….
    Khusus untuk Ibu Hamba Allah: bahkan saya tidak bisa mengingkari bila muslimah memiliki usaha bisnis, yang mengharuskan memiliki banyak relasi bisnis, DENGAN CATATAN: Tetap menjaga batasan-batasan syar’i.

    => Yang saya kritisi adalah: sikap mulai “bermudah-mudahan” dlam berinteraksi dengan lawan jenis sampai pada batas “tidak ada hajah“. Dan tambahan keterangan: bagi ikhwan/ustadz yang ingin berdakwah agar tetap ingat nasehat salaf terhadap fitnah wanita (qoul2 salaf ini akan saya tuliskan beberapa waktu mendatang).

  24. Senda
    November 2, 2009 pukul 21:06 | #24

    Saya cukup kaget mendapatkan email dari group FB Penulis Muslim. Tulisan ini anda sebenarnya memiliki makna yang baik karena anda menyampaikan banyak kebenaran. Saya salut dengan tulisan anda, meski cara penyampaian anda yang mungkin salah.

    Anda memang tidak mengharamkan FB, tetapi judul anda cukup memprovokasi orang lain untuk berpikir anda orang yang tidak toleran dengan keadaan. Saran saya sebaiknya anda membuat sebuah judul yang lebih mengajak bukan menakut-nakuti.

    Saya hanya seorang biasa yang mungkin ilmunya jauh di bawah akhi, tulisan saya di http://www.motivasihxxxxxxxx mungkin tidak bisa dibandingkan dengan akhi. But sebagai sesama muslim saya merasa keberatan dengan hal-hal yang dijelaskan. Karena selama ini saya menggunakan medium FB untuk memperluas tali silahturahmi, dengan FB saya memiliki sebuah grup bernama Komunitas Baca Buku yang alhamdulillah bermanfaat untuk orang banyak. Saya juga memiliki banyak teman akhwat di friendlist saya setelah KBB terbentuk. Namun selama ini tidak ada pemikiran dari saya untuk membuat FB sebagai medium zinah.

    Semua bergantung pada masing-masing orang saudaraku. Maka ada baiknya pesan akhi di rubah judulnya agar dakwah akhi menunjuk semua orang.

    Saya selalu meyakini sebuah kebaikan dan ketulusan akan diterima dengan mudah ketika kita benar menyampaikannya. Kurang lebihnya mohon maaf karena kesalahan terbesar jelas ada diri saya pribadi dan yang benar hanya Allah semata.

  25. Abu Ayyub
    November 2, 2009 pukul 21:11 | #25

    setuju ustad..semua memang kembali kepada niat awal kita. tapi sejalan seiringnya waktu, syaithon pasti menggoda insan yg lemah ini..sedalam apapun ilmu yang kita miliki, sekuat apapun iman yang kita miliki, tidak akan ada manfaatnya tanpa perlindungan Allah Ta’ala. Sungguh hati kita ini berada diantara jari-jari Ar-Rahman, yang dengan kehendakNya Allah akan memberi petunjuk atau menyesatkan seorang hamba.. Lantas bagaimana agar kita senantiasa mendapat perlindungan Allah? maka kita wajib menjalankan segala kewajiban yg diperintahkan Allah, serta menjauhi perkara2 yang telah dilaarangNya.. Marilah kita senantiasa memohan perlindungan dari Allah dari kelalaian yang kecil, akan tetapi memiliki akibat yang besar ini.. at least ana mau mengucapkan Jazaakallahu khairan kepada ustad ataas nasihat yang sangat bermanfaat ini..

  26. November 2, 2009 pukul 21:26 | #26

    # Senda -baarakallah fiik-

    Saya tidak ingin mengubah judul di atas

    agar manusia tidak bermudah-mudahan meng-add lawan jenis, kecuali kepada istri/suaminya sendiri.

  27. November 2, 2009 pukul 21:32 | #27

    @ Abu Ayyub

    Jangan panggil saya ustadz. Panggil “akh” saja. Saya ini belum lama belajar Islam, mulai intensif beberapa waktu lalu di awal mulai kuliah. Masih sangat jauh dari sebutan ustadz…

  28. hendra
    November 3, 2009 pukul 05:16 | #28

    Bismillah…
    Puisi yang kemarin antum kasih kayanya liriknya kurang, ini ana bikin lanjutannya. ana sempet copas puisi antum ini ke web ana jadinya tahu kalau ada yang kurang. ana tahu maksud antum…
    Barakallohufik..

    لو كنت تعلم ما أقول عذرتني

    أو كنت أعلم ما تقولو عذلتكا

    لكن جهلت مقالتي فعذلتني

    و علمت أنك جاهل فعذرتك

    Andai ‘kau paham apa yang kuucapkan,
    Niscaya ‘kau ‘kan maafkan diriku…

    Atau ‘ku tahu ucapanmu,
    Maka ‘ku kritik dirimu…

    Namun, ‘kau ‘tak pahami untaian kataku,
    Hingga ‘kau cela diriku…

    Dan ‘ku tahu dikau bodoh,
    Maka ‘ku maafkan dirimu…..!

    [Puisi Khalid bin Ahmad Al-Farahidi, ahli nahwu pencetus ilmu ‘arudh. Lihat syair ini di kitab الوافي و الوفيات , halaman 1884 dan kitab مجمع الحكم و الأمثال, keduanya via software المكتبة الشاملة]

    dikutip dari alashree.wordpress.com

    iya,mungkin dalam hal ini ana tidak paham dan bodoh sehingga tidak paham dengan yang antum ucapkan dan tuliskan.
    ‘Afwan….

    Tapi memang kita ini harus bersosialisasi, tapi tidak boleh bermudah-mudahan…

    semoga Alloh beri taufik..
    Amin..

  29. November 3, 2009 pukul 06:34 | #29

    Yaa..ya.., pak dhe…

    Kalau mau lanjut diskusinya, kita ketemuan langsung saja ya… Biar tidak dikira kita ini sedang “perang“. Masalahnya banyak orang belum terbiasa diskusi ilmiah seperti yang kita lakukan sehari-hari, makanya sampai ada orang kira ana ini tahdzir antum. ^_^
    Aneh-aneh saja (terkadang) pandangan orang itu…

    Sampai ada temen yang meminta maafkan antum… waduh…waduh…

    NOTES: Saya memang tidak kutip penggalan syair Khalid Al-Farahidi di atas, karena saya tidak katakan antum bodoh, syeh…^__^
    Penekanan saya pada “antum ini tak pahami maksudku…” bukan pada “antum ini bodoh, maka kumaafkan kau”…

    Dan ketika tulis risalah “facebook” itu, saya ini tidak memikirkan antum, syeh! Perlu diketahui bahwa salah satu sebab pendorong saya menulis risalah itu karena adanya saran dari pembaca muslimah yang risih dengan sikap sebagian laki-laki di FB.”

    Dan saya posting malam-malam, karena Ustadz Aris jauh-jauh datang dari rumah beliau di malam hari ke tempat ana hanya untuk serahkan hasil muraja’ah beliau terhadap risalah ana. Maka, malam itu juga ana posting! Lha bagaimana tidak malu? Padahal, seharusnya kitalah, yang murid ini yang mendatangi gurunya…

  30. ejajufri
    November 3, 2009 pukul 07:38 | #30

    ^_^

  31. wahyu, ikhwan
    November 3, 2009 pukul 07:46 | #31

    bismillah…
    Komentar saya: sebaiknya para pembaca mau menyimak artikel ini dengan detail, jangan digunakan metode membaca scanning, karena akan menimbulkan salah pemaknaan.
    Artikel diatas sangat cocok untuk teman-teman ikhwan yang ingin hijrah dari masa lalunya yang banyak terseret fitnah. Karena hal itu saya rasakan sendiri, sy termasuk masih baru dalam hal mengikuti kajian, seandainya saja, ada lawan jenis yang ngajak chat, pasti akan terpengaruh… setelah itu baru sadar bahwa virus fitnah sudah masuk ke hati. Ternyata, dua hari setelah sy hapus account lawan jenis dari FB, manfaatnya terasa, tidak ada lagi orang yang comment di accountku yang mengandung virus fitnah ke dalam hati.
    Awalnya sy mempunyai visi untuk menyebarkan ilmu syar’i kpd tmn2 smua yang ada di friendlist, termasuk akhwat… tapi wallohu a’lam, apakah yg sy lakukan sudah berhasil ato tidak, ato bahkan malah hati ini menjadi berpenyakit.

    Kepada para akhwat, sy pesankan untuk antunna mengikuti group-group bermanfaat yang memberikan artikel-artikel bagus, ato account dari ikhwan yang benar-benar bisa menjaga dirinya dari fitnah. Janganlah kau add orang-orang semacam sy, yang baru belajar Islam. Karena hati ini masih mudah terkena penyakit.
    Ingatlah, setan tidak akan langsung menjerumuskanmu dalam perbuatan keji, tapi dia akan menyeretmu melalui cara yang halus, dan kadang akan dihiasi oleh dalil-dalil yang diselewengkan maknanya……

    Jazakumullohu khoyron kpd akh Abu Muhammad Al ‘Ashri yang sudah memposting artikel ini.

  32. hendra
    November 3, 2009 pukul 08:44 | #32

    Diskusi ilmiah yang kita lakukan sehari-hari????????
    maskudnya bagaimana ya akh????

    ana tidak pernah bertemu dengan antum, ana juga tidak tahu maksud antum yang manggil ana pakdhe??? syekh????

    kenal saja tidak, apa kita memang cepat akrab ya akh???
    ana kenalkan saja agar lebih akrab dan tidak menimbulkan fitnah yang ana kira nama ana sama seperti teman antum ya?
    ana hendra,ana penggemar blog antum karena ana rasa blognya sangat ilmiah dan bagus.
    Jazakalloh Khoir Katsir..

  33. hendra
    November 3, 2009 pukul 08:45 | #33

    ‘Afwan, ana juga baru ngaji akh, jadi ana ngomongnya sembarangan…

    ‘afwan ya

  34. fes buk
    November 3, 2009 pukul 10:23 | #34

    nice post jat, klo bisa antum segera selesaikan lanjutannya. ini emang fenomena yg makin memprihatinkan…

  35. dildaar80
    November 3, 2009 pukul 11:31 | #35

    jazakumullah..bagus…

  36. November 3, 2009 pukul 14:21 | #36

    Ana khawatir sekali, mereka yang susah menghapus akhwat dari friendlist, telah terkena bujuk rayu syaithon. Banyak sekali alasan-alasan yang akan tertampik dengan sendirinya kalau kita melihat bagaimana kehidupan para Salaf dalam berkomunikasi dengan akhwat. Sangat terbatas!!
    Dulu ana pun merasa seperti itu, kalau ana hapus, bagaimana dakwah pada mereka?? Ana rasa itu hanya rasa cemas yang datangnya dari syaithon.
    Menikahlah! Biarlah istri antum yang menggantikan antum berdakwah pada para akhwat.
    (Bukan berarti ana sudah menikah, ana belum menikah koq, semoga ALLOH memudahkannya.

  37. November 3, 2009 pukul 18:25 | #37

    @ Hendra – بارك الله فيك -

    Beda orang berarti ^__^
    Saya kira hendra yang suka diskusi dengan saya…^__^

  38. November 3, 2009 pukul 18:30 | #38

    @ Light of The Moon

    => Tentu saja, sesuai dengan dugaan Anda, “Komentar Anda pasti saya hapus”
    Mohon gunakan nama asli. Saya tidak suka tipikal orang yang “main belakangan”, kecuali jika Anda bukan laki-laki.

  39. Adam Kurniawan
    November 3, 2009 pukul 23:31 | #39

    Info yang mantab sob.
    Ditunggu kunjungan baliknya ya sob!
    Plus kasi komen ya, biar impas, hehehe!

  40. November 4, 2009 pukul 05:27 | #40

    @ Adam – بارك الله فيك -

    Baarakallah fiik…
    Insya Allah saya akan berkunjung, sekarang juga….

  41. ana miftah
    November 4, 2009 pukul 06:22 | #41

    Jazakallah khairan ustadz..
    ana jadi tersadarkan….

  42. Picture of berau
    November 4, 2009 pukul 06:22 | #42

    sebaiknya memang akhwat tidak menampakkan foto-nya secara jelas di account FB mereka

  43. November 4, 2009 pukul 06:45 | #43

    @ Ana Miftah – بارك الله فيك -

    Mohon jangan panggil saya Ustadz. Saya masih thalabul ‘ilmi. Mulai intens mempelajari dien baru beberapa saat yang lalu, di awal kuliah. Masih sangat jauh dari sebutan ustadz. Panggil akh (saudara) saja…

  44. ibnu fauzy
    November 5, 2009 pukul 08:09 | #44

    Assalamu ‘alaikum..
    benar-benar malu, jika kita membaca artikel ini..
    ternyata hati kita masih lemah..
    teruskan untuk saling menasihati.. salam kenal

  45. sekaralit
    November 5, 2009 pukul 14:19 | #45

    hmm…gt y kkak..
    prnah trlontar dr lisan teman saya: FB memang haram!

  46. dika
    November 6, 2009 pukul 16:44 | #46

    bismillah,

    as salamu ‘alaika wa rohmatullahi wa barokatuh

    akh jati -semoga Allah mengkokohkannya di dalam menetapi jalan kebenaran-, ana izin intik mengkopi artikel ini.

    bila diizinkan, ana akan menampilkannya -bi idznillah- di milis an nashihah. sebuah milis yang diasuh oleh ustadzuna dzulqornain -hafizhohullahu ta’ala- bersama asatidzah lainnya-

    semoga hal ini bermanfaat bagi salafiyyun pengguna facebook -insyaallah-

    jazakallahu khoir

  47. November 6, 2009 pukul 19:50 | #47

    @ Dika بارك الله فيك -

    و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

    Antum ini Dika alias Andikram yang dulu bersama saya ikut daurah Tauhid itu ya? Benar / tidak ya..?
    Kalau tidak salah ingat, saya pernah lihat pertanyaan tentang seputar pergaulan antar lawan jenis di facebook yang ditanyakan kepada Ustadz Dzulqornain -حفظ الله- di milis An-Nashihah (kalau tidak salah ingat), namun saya belum dapat jawaban/penjelasannya.

    ‘ala kulli haal, silakan saja akhi… kalau akan dicopy.

    Oh ya, kalau antum benar andikram, saya minta nomor HP-nya ya… Tolong dikirim ke ginanjar_i_b@yahoo.co.id (tidak ditulis di sini)

    و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

  48. November 6, 2009 pukul 20:27 | #48

    @ Sekaralit – بارك الله فيك -

    “Jika” facebook digunakan untuk melakukan perbuatan haram, seperti memandangi lawan jenis, menulis kata-kata kotor di wall, dan segala perbuatan maksiat lainnya, berarti memanfaat facebook jelas haram.

  49. November 6, 2009 pukul 21:21 | #49

    جزاك الله خيرا يا اخي

    أنا مجرد قراءة بقية هذا اليوم وبقية كانت أفضل من المواد الموجودة على فيسبوك

    انتظر بقية

  50. noor
    November 8, 2009 pukul 16:56 | #50

    inilah dinamika hidup yang berpulang pada usaha dalam menjaga niat dan pentingnya saling mengingatkan. control control and control. feedback eror dalam setiap langkah seiring dengan waktu yang terus berjalan agar output yang dihasilkan tetap berada pada batas-batas yang diijinkan. and always remember that everything is under Alloh control, so pray everytime..

  51. dika
    November 8, 2009 pukul 22:14 | #51

    bismillah,

    akh jati -barokallahu fiik-, alhamdullilah untuk permasalahan facebook ini, beliau -ustadz zdulqornain hafizhohullahu- telah memberikan nasehat yang indah pada saat sesi tanya jawab di dalam muhadhoroh beliau hari ini membahas kutaib i’tiqod al imam abu hatim & al imam abu zur’ah dan selayaknya bagi para salafiyyin yang menggunakan fasilitas facebook ini mendengarkan nasehat beliau.

    alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat..

  52. November 9, 2009 pukul 16:51 | #52

    @ Dika

    Ya, artinya tidak di milis. Jawaban beliau tentang facebook pernah ditranskrip salah satu ikhwan, dan saya sudah baca. jawaban beliau masih jawaban dengan kaidah umum. Begitulah akhi… memang pemanfaatan sarana itu hukumnya netral, tergantung tujuan pemanfaatannya. Ustadz Dzul tidak bisa mengharamkan. Alhamdulillah, beliau dan para asatidz lainnya tidak hidup di dunia internet. Kalau pun ada ustadz yang bersinggungan dengan internet, atau facebook pun, itu pun mereka hanya seperlunya dan tidak sempat mendalaminya. Alhamdulillah karena mereka disibukkan dengan ilmu dan mengajar.

    Namun, yang saya lihat sudah sangat parah akhi… Mewabah hingga mulai menjangkiti para penuntut ilmu. Ada satu kaidah yang perlu diketahui / diingat oleh saudara-saudara kita, yaitu kaidah tentang SADDUDZ-DZARI’AH. Kalau manusia memperhatikan bab ini, niscaya mereka tidak akan bermudah-mudahan dalam FB. Jika dimudahkan Allah, saya akan bahas masalah ini, karena saya kira para usatdz belum ada yang memulainya. ya karena itu -alhamdulillah- para ustadz lebih banyak sibuk dalam ilmu dan dakwah di dunia nyata.

    Saya kira, kita yang banyak berinteraksi di dunia maya, punya kewajiban untuk membahas masalah ini.

    * Oh ya akhi… kalau bertemu Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi -kalau tidak merepotkan antum- tolong tanyakan apakah beliau punya kitab Nubdzatun Mukhtasharah karya Ummu ‘Abdillah binti Syaikh Muqbil atau tidak, ya? Saya punya draft artikel penting, yang satu-satunya jalan untuk menyelesaikannya adalah dengan merujuk pada kitab tersebut. Kitab ini sudah saya cari-cari di berbagai tempat, TIDAK ADA. Ketika daurah masyaikh di bantul beberapa waktu lalu pun, tidak ada yang menjualnya. Saya pesan ikhwan yang biasa jual kitab-kitab cetakan Yaman, juga belum ada jawaban. Mungkin, pemberontakan Syi’ah terhadap pemerintah Yaman yang terjadi saat ini mempengaruhi distribusi kitab.

    * Kalau ustadz Dzul punya, saya mohon bantuan antum (kalau tidak merepotkan) untuk copykan kitab tersebut. Nanti, biaya copy dan pengirimannya ke tempat saya, saya ganti. Namun, sekali lagi, kalau tidak merepotkan antum.

    Jazakallah khair…

  53. islam murni
    November 10, 2009 pukul 16:03 | #53

    alhamdulillah…
    syukran akhi atas nasihat-nasihatnya. Semoga bermanfaat buat saya, Antum dan segenap pembaca. Amin.

    Barangkali Antum punya nasihat buat para mahasiswa/i dan pegawai…Di sana (kampus dan tempat kerja) fitnahnya wanita bisa lebih hebat dari sekedar facebook.
    Barokallohu fik

  54. November 10, 2009 pukul 18:07 | #54

    @ Islam Murni

    Apa yang anda sarankan, sudah menjadi draft artikel saya, tetapi saya belum sempat menyelesaikannya. Semoga dimudahkan Allah…

  55. setyo widodo
    November 10, 2009 pukul 18:49 | #55

    Semoga bermanfaat buat saya, Antum dan segenap pembaca. Amin.

  56. November 11, 2009 pukul 23:50 | #56

    akhirnya keluar juga syeikh…

    bunga mawar itu wangi ketika dipetik dan dicium
    dan orang bersikukuh memetiknya meskipun ia berlindung diantara duri-durinya
    ——Itulah Wanita Shalehah——-

    tapi bunga bangkai itu baunya busuk , meskipun tak pernah dipetik
    dan orang pergi menjauhinya meskipun ia tak berlindung
    ———dan ini wanita yang selainnya——–

  57. ummu irfan
    November 13, 2009 pukul 14:40 | #57

    Jazakumullahu khairon katsiran atas tulisannya Akhi. Ana mempunyai empat buah hati. Yang sulung sudah remaja, ana amat tertarik dengan tulisan akhi dan komentar yang diberi. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan pahala. Semoga akhi beristiqomah dan Insya Allah menjadi seorang Ustadz……..

  58. November 13, 2009 pukul 17:11 | #58

    آمين. و فيك جزاك الله خيرا

  59. Musafir darat
    November 13, 2009 pukul 23:01 | #59

    Sungguh akhi, artikel nasehat ini membuat hati bergetar…
    …ana izin Copas yaa…syukron

  60. Abdul Latief Al Aziz
    November 15, 2009 pukul 06:57 | #60

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Syukran akhi atas nasihatnya, mungkin sebagian ikhwan berpendapat beda. Boleh ana copy akh? InsyAllah ana akan pelajari sebelum page 2 keluar. kapan page 2 keluar akhi?
    afwan boleh minta alamt emailnya?

    kunjungan balik ya?

  61. dika
    November 16, 2009 pukul 20:43 | #61

    bismillah

    wa jazakallahu khoir….

    ahk jati -hafizhokallahu-, afwan mungkin ana ndak bisa bantu berkaitan dengan kitab yang anta minta, dikarenakan keterbatasan yang ana punya. semoga hal ini dimaklumi.

    boleh tahu anta melihat transkrip jawaban tersebut di website mana ?

    ana harapkan, di lain waktu -bi idznillah-,kita bisa duduk bermajelis untuk saling ingat – mengingatkan di dalam menetapi kebenaran & kesabaran.

  62. November 17, 2009 pukul 06:14 | #62

    @ Dika

    Saya dapatkan transkripnya di FB, akhi… Namun, sudah tidak melihat lagi.

    Amiin, semoga kita dipertemukan lagi di atas tauhid dan sunnah.

  63. hamba Allah di bumi Allah
    November 17, 2009 pukul 07:17 | #63

    sangat suka artikel ini. izin co pas ke blog probadi. InsyaaAllah besar manfaatnya

  64. November 17, 2009 pukul 17:10 | #64

    @ hamba Allah di bumi Allah (dan semua pembaca)

    => Tidak perlu izin lagi, silakan dicopy paste, mudah-mudahan bermanfaat bagi kaum muslimin.

  65. November 23, 2009 pukul 20:41 | #65

    dalam bhs arab ada yg namanya huruf ilaj.Huruf ini menyebabkan ‘penyakit’ (baca=perlakuannya jadi agak berbeda dg huruf yg lain).Huruf -huruf itu adalah
    a y u,jadi bagi yang ayu(baca=cantik) memang menjadi ‘penyakit’,terutama bagi pria

  66. November 24, 2009 pukul 06:07 | #66

    @ Hamba

    Memang, yang “ayu” bisa membuat penyakit bagi pria -semoga Allah melindungi kita dari penyakit ini-.
    Namun, kalau dianalogikan dengan dengan huruf illah dalam bahasa Arab, terlihat wagu, alias terlalu dipaksakan. ^__^
    => Huruf ilah itu bukan a, y, u, tetapi الألف al-alifu , الياء yaa’u, dan الواو waaw.

  67. hamba Allah
    November 24, 2009 pukul 12:51 | #67

    syukron atas nasehatnya.

  68. ali ashar
    November 28, 2009 pukul 18:53 | #68

    terimakasih atas nasehatnya gmn cara menghilangkan foto yang sdh dianjurkan dihapus? bls

  69. Syams Tuxer
    November 30, 2009 pukul 10:20 | #69

    akhi..syukron atas artikelnya….
    sungguh ana mengalami apa yang antum katakan
    awal niat ingin berdakwah…..mulai terkikis…
    lebih banyak “bermudah-mudahan” daripada dakwah itu sendiri

    syukron ya Akhi…artikel ini sungguh sangat2 bermanfaat bagi ana khususnya…
    smoga Allah Ta’ala selalu memberikan kebaikan bagi anta..

    jazakallah

  70. November 30, 2009 pukul 19:55 | #70

    @ Syams

    آمين. جزاك الله خيرا

  71. Akhina Ifa My Pen Name
    Desember 2, 2009 pukul 04:39 | #71

    Afwan akhina, bolehkah saya bertanya?

  72. Akhina Ifa My Pen Name
    Desember 2, 2009 pukul 04:40 | #72

    mengajukan pendapat maksud saya

  73. Akhina Ifa My Pen Name
    Desember 2, 2009 pukul 04:44 | #73

    belakangan ini saya menemukan bahwa adanya profile2 Zone khusus Akhwat, memang sih benar adanya melakukan demikian, tapi apa ngak lewat —edited— atau situs network lainnya, yg intinya jangan di facebook lah, lantaran kita tahu dana yang akan keluar itu khawatir akan menjadi peluru bgi kaum muslimin di palestina, misalkan.
    saya sarankan di —edited— jika memang bener2x menjaga hijab.

  74. Desember 2, 2009 pukul 12:38 | #74

    @ Al-Akh Ifa

    Pada asalnya muslimah saling berkomunikasi lewat facebook/situs network khusus muslimah lainnya (kalau ada) tidak apa-apa. Asalkan bisa menjaga adab pergaulan. Dan tidak bermudah-mudahan dengan lawan jenis. Namun, kita nasehatkan hendaknya muslimah memerhatikan pula nasehat syaikh Al-Albani >>>di sini<<<

  75. Akhina Ifa My Pen Name
    Desember 3, 2009 pukul 07:17 | #75

    Jazakallahu Khairan ya akhina, tapi bahasa inggris,y. another time i covering, hehe

  76. X-Trada
    Desember 5, 2009 pukul 13:04 | #76

    bismillah…
    subhaanalloh…antum bilang “baru belajar” saja tapi sudah mampu menyusun tulisan sebagus ini…
    baarokallohu fiik…

    na’am, sy sudah sebarkan catatan ini kepada beberapa akhwat dan sebagian besar dari mereka menyetujuinya..walhamdulillah…(meskipun ada yg jadi kurang nyaman krn tulisan ini)…
    jazaakumulohu khoiron katsiiron…

    memang benar…sy dan teman sy mengalaminya sendiri..
    awalnya saya memiliki 16 teman ikhwan dalam friendlist FB sy..dan ternyata jd kurang bisa menjaga batasan ikhwan-akhwat..akibatnya tidak baik untuk kesehatan hati..
    sy pun berpikir, ketika madharat yg ditimbulakn lebih banyak drpd mashlahatnya…bukankah lebih baik ditinggalkan?? (semoga Alloh mengganti dengan yang lebih baik), ditambah menemukan tulisan ini..sy semakin mantab utk remove ikhwan…

    kini FB sy hanya berisi teman akhwat, dan menjadi jauh lebih baik.. bahkan bisa saling memberi manfaat dan saling curhat masalah muslimah dgn lebih leluasa dengan banyak akhwat dari berbagai kota..alhamdulillah

  77. Desember 5, 2009 pukul 13:55 | #77

    @ X-trada

    Saya ingin menambahkan (kaum muslimin boleh menerima/menolak perkataan saya karena perkataan yang harus diterima hanya perkataan Nabi. Namun ini sekadar nasehat) bahwa watak asli seseorang itu bisa dilihat dari teman-teman facebooknya.

    Kaitannya dengan forum muslimah, Anda bisa bergabung di page FB komunitas muslimah (dikelola muslimah.or.id). Silakan disearch di FB (karena saya tidak bergabung di page tsb ^^). Dan kalau sudah bergabung, jika memungkinkan bagi anda untuk memberi saran pada pengelolanya untuk meremove anggota yang laki-laki. Masak namanya komunitas muslimah, tetapi banyak laki-lakinya. Ada teman saya tergabung di page tersebut sehingga tampak di FB saya.

    Alhamdulillah, banyak artikel menarik seputar muslimah dan materi Islam lainnya yang bisa diperoleh di forum tersebut.

    Email Anda dari akhwat.web.id, mengapa tidak memelopori forum muslimah juga? Bukankah artikel di akhwat.web.id juga banyak sehingga bisa di-share kepada muslimah yang lain?

  78. adrian isma
    Desember 5, 2009 pukul 20:29 | #78

    ikhwan -ikhwan yang sudah mapan mudah-mudahan tidak lupa tentang perjuangan berat 2004.kami yg dibawah tidak pernah menuntut dunia dari siapapun.karena kami berjuang atas nama dakwah.tidak ada seorangpun yg sanggup membayar dengan harga berapun hasil dakwah tsb.Tapi jangan dilupakan hasil dakwah itu harus dibayar dengan bukti nyata dakwah keseluruh negeri ini. Amin.

  79. Desember 6, 2009 pukul 05:38 | #79

    AssWw. Saya masih melihat di luar FB, dunia nyata, sekeliling kita banyak sekali kema’siatan yang naudzubillaahi min dzalika…. Apa yg sudah kita lakuka untuk ber”nahi munkar”…… FB bisa jadi ajang da’wah kepada akhi atau pun akhwat, bukan untuk larut dalam kema’siatan. Kalau mau berma’siat di sana saj di dunia nyata….
    Walaahu ‘alam bissawab….

  80. X-Trada
    Desember 6, 2009 pukul 07:26 | #80

    na’am…

    yg saya ceritakan di atas menyangkut teman akhwat di FB saya secara umum(berupa akun personal, bukan grup), tapi ternyata ada masukan utk forum muslimah..alhamdulillah.

    allohu a’lam saya bukan pengelola akhwat.web.id.
    setahu saya ada juga page FB “Jurnal AKHWAT” yang dikelola oleh akhwat.web.id.

    sekalian saya sarankan bagi akhwat yg membaca comment sy ini jika ingin membuat akun email baru, silakan buat di http://akhwat.web.id..insya alloh antunna akan menerima email islamiyyah gratis secara berkala ke dalam akun email antunna.
    baarokallohu fiikunna

  81. X-Trada
    Desember 6, 2009 pukul 07:28 | #81

    ‘afwan yg benar http://akhwat.web.id

  82. Desember 6, 2009 pukul 12:42 | #82

    @ Dade

    1) Alangkah lebih baik jika ditulis Assalamu’alaikum (lengkap) dan tidak disingkat AssWw.
    2) Benar akh… Baik di dunia maya maupun di dunia maya, kemaksiatan telah memenuhi kehidupan kaum muslimin. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua, seluruh kaum muslimin.

    Baarakallah fiik.

  83. Desember 6, 2009 pukul 12:51 | #83

    @ adrian Isma
    آمين.

    Kalau bukan karena Allah kemudian jasa ikhwan-ikhwan 2004 (kalau di jogja) ke atas, niscaya perkembangan dakwah tauhid dan sunnah tidak menyebar akh. Dan mereka yang tidak terkenal namun memiliki andil yang sangat besar sangat banyak akh, walhamdulillah. Dan Untuk menyebarkan dakwah ke seluruh negeri, diperlukan ta’awun dan saling nasehat-menasehati yang sungguh-sungguh di antara kita semua.

  84. iqbal
    Desember 6, 2009 pukul 23:56 | #84

    syukron, nasehatnya,
    semoga allah memberikan kemudahan dalam melaksanakannya,

    afwan, mungkin lebih baik, artkel di atas juga disinggung juga masalah, hukum memasang atau menggambar mahluk hidup . afwan

  85. Desember 7, 2009 pukul 06:00 | #85

    @ Iqbal

    Usulan Anda, sudah dalam draft. Namun, belum saya selesaikan karena masih banyak draft yang lain, dan juga masih banyak kesibukan duniawi juga. Semoga Allah mempermudah urusan kita semua.

  86. mustaqim
    Desember 8, 2009 pukul 08:21 | #86

    memang FB sekarang sudah di salahgunakan.

  87. Rama
    Desember 22, 2009 pukul 11:22 | #87

    subhanallah…
    Mudah-mudahan menjadi pencerahan buat penggemar FB,
    termasuk majang foto-foto yg seharusnya tidak dipublikasikan.

    Salam kenal,
    wassalaam

  88. adi
    Desember 23, 2009 pukul 21:29 | #88

    Assalamualaiykum, jazakumullahu khairan akhi. semoga Allah memberikan kebaikan kepada anta, untuk lebih banyak berdakwah di jalan Allah dan mengingatkan di jalan Allah amin… barakallahu fiik