Catatan Harianku

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Biografi Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi


Ustadz Abu Ubaidah yang Kukenal…

disusun oleh:

Abu Muhammad Al-‘Ashri

A. Pengantar

biografi ustadz yusufPembaca mulia, mungkin di antara pembaca, banyak yang bertanya-tanya, siapa itu Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi? Na’am, ketika awal mula blog ini dibuat, tercatat ratusan orang mengklik halaman “Tentang Ustadz” (sekarang kami ganti “Biografi Ustadz“). Kami memohon maaf apabila halaman tersebut kosong cukup lama. Perlu pembaca ketahui bahwa Ustadz Abu Ubaidah sebenarnya enggan dan malu menulis risalah biografi yang menceritakan dirinya sendiri. Kamilah yang terus menerus mendesaknya. Kami berharap agar apa yang beliau ceritakan dari perjalanan beliau menuntut ilmu, dapat menjadi contoh bagi kita semua, khususnya kita yang masih muda. Ini karena aktivitas thalabul ilmi yang beliau jalani, dimulai semenjak beliau masih kecil. Dan di saat beliau masih dikatakan sebagai pemuda, beliau sudah memasuki dunia dakwah, khususnya dakwah dengan tulisan-tulisan beliau di Majalah Al-Furqon. Kami sangat berharap agar kita, khususnya yang masih muda, dapat meniru kesungguhan beliau dalam ilmu, amal dan dakwah. Betapa sangat disayangkan, kita melihat kebanyakan anak muda kaum muslimin (mudah-mudahan Allah memperbaiki kita semua) terbuai dalam hal sia-sia atau terlena dalam urusan dunia. Selain itu, ditulisnya biografi ini adalah untuk menjawab pertanyaan saudara-saudara yang “anti salafi” yang menanyakan, Siapa ini “Abu Ubaidah”?

Beberapa isi pokok biografi beliau adalah dari risalah beliau sendiri yang ditulis pada 15 Syawal 1430, yang dikirimkan ke email saya. Kemudian, saya edit, saya tambah dan saya susun ulang dengan harapan dapat dengan mudah diterima pembaca.

.

B. Awal Mula Saya Mengenal Beliau

Di akhir-akhir saya duduk di bangku SMA, saya sudah mulai mengenal beliau melalui tulisan-tulisan beliau di majalah Al-Furqon. Mungkin, di antara pembaca yang berlangganan majalah tersebut, tidak asing dengan rubrik Membela Hadits Nabi dan rubrik Fawa’id. Na’am, itulah spesialisasi beliau di majalah, meskipun terkadang beliau juga membahas masalah fiqh ataupun masalah kontemporer lainnya.

Di awal saya kuliah, saya mendengar sebagian ikhwan wisma yang bercerita bahwa beliau kaget bertemu dengan Ustadz Abu Ubaidah, karena ternyata masih sangat muda. Mulai saat itu, saya mulai penasaran dengan Ustadz sehingga saya ingin sekali bertemu dengan beliau. Kekaguman saya kepada ustadz bertambah ketika tahun 2005 terbit buku perdana beliau yang berjudul Syaikh Al-Albani Dihujat. Buku ini merupakan kritikan ilmiah beliau kepada Bapak Prof. Dr. H. Ali Musthafa Ya’qub, M.A (sekarang beliau –hafidzohullah- adalah imam besar masjid Istiqlal Jakarta) yang mencela Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Apa yang dilakukan Bapak Profesor –mudah-mudahan Allah memaafkannya- sebenarnya merupakan ulangan dari apa yang pernah disampaikan oleh Hasan As-Saqqaf dalam kitabnya yang berjudul Tanaqudat al-Albani al-Wadiha fi ma Waqa`a fi Tashih al-Ahadith wa Tad`ifiha min Akhta’ wa Ghaltat , yang kitab ini sudah lama dikritik dan dibantah oleh murid senior Syaikh Al-Albani, yaitu Syaikh Ali Hasan Al-Halabi Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi dalam kitabnya yang berjudul Al-Anwar al-Kasyifah Ii Tanaqudhat atKhassaf az-Zaifah dan Syaikh Khalid al-Anbari, salah seorang murid al-Albani pula , dalam risalahnya yang berjudul If tiraaat as-Saqqaf al-Atsim ala al-Albani Syaikh Muhadditsin. Di sini, hal yang membuat penulis kagum adalah seorang “anak kemarin sore” yang pendidikan formalnya hanya MI (Madrasah Ibitda’iyyah) dapat membuat studi kritis ilmiah terhadap seorang Profesor Guru Besar Ilmu Hadits, yang di masa mudanya menimba di ilmu Universitas Islam Madinah, apalagi murid seorang cendekiawan terkenal, Dr. Musthafa Al-A’zhami, pentahqiq kitab Shahih Ibnu Khuzaimah.

Saya mempersilahkan para pembaca mulia untuk menilai sendiri kritikan beliau dalam buku tersebut, apakah ilmiah atau tidak, dan silakan pula membandingkannya dengan argumentasi Bapak Profesor -semoga Allah merahmatinya-.

Masya Allah. Ustadz Abu Ubaidah yang kami kenal adalah sosok yang sangat tawadhu’ dan tidak ingin menonjolkan diri, meskipun di mata kami beliau memiliki kemampuan telaah ilmiah yang luar biografi ustadz yusuf as-sidawibiasa. Setiap orang yang bertemu beliau, insya Allah tidak akan merasa canggung karena beliau menempatkan orang lain sebagai shahabat, meskipun kepada orang yang baru beliau kenal. Sebenarnya, saya belum lama mengenal beliau, baru sekitar pertengahan tahun 2008 yang lalu. Mulanya dari kajian ustadzuna Aris Munandar (ustadzaris.com) di Yogya yang libur dikarenakan beliau akan mengikuti daurah masyaikh ahlus-sunnah, murid-murid senior Syaikh Al-Albani di Jawa Timur bulan Februari 2008. Saat itu, bertepatan dengan sampainya kabar kepada saya bahwa Ustadz Abu Ubaidah mudik ke Indonesia (ketika itu beliau masih belajar di Markaz Syaikh Ibnu Utsaimin). Serta merta, saya meminta Ustadz Aris untuk menanyakan, kira-kira apakah ustadz Abu Ubaidah bisa mengisi kajian di Jogja atau tidak. Alhamdulillah, saya mendapat balasan sms dari ustadz Aris (semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan) bahwa Ustadz Abu Ubaidah bersedia ke Jogja. Ustadz Aris juga memberikan nomor HP ustadz Abu Ubaidah agar saya bisa menghubungi beliau.

Semoga Allah membalas ustadz Aris dengan kebaikan yang berlipat. Hingga beliau kembali ke Jogja, saya dan teman-teman di Jogja belum memutuskan hari dan tanggal pelaksanaan kajian. Beliaulah yang terus mendorong kami untuk mengkonfirmasi kepastian pelaksanaan kajian Ustadz Abu Ubaidah. Bahkan, Ustadz Aris menyampaikan bahwa rumahnya bisa sebagai tempat penginapan bagi Ustadz Abu Ubaidah. Na’am, akhirnya -atas dorongan ustadz Aris- kamipun menghubungi ustadz Abu Ubaidah untuk memastikan kesediaan beliau untuk mengisi daurah di Jogja. Kabar ini, ternyata didengar oleh Ustadz yang mulia, Abu Sa’ad, M.A (pengasuh Ma’had Jamilurrahman As-Salafy Yogyakarta) dan beliau meminta saya agar tempat daurah di Ma’had Jamilurrahman saja. Namun, saya menolak usulan tersebut dan menyampaikan alasan bahwa alangkah lebih baik jika tempat daurah dilaksanakan di tempat yang lebih mudah dijangkau masyarakat awam, karena bila diadakan di ma’had, dikhawatirkan yang datang hanya ikhwan-ikhwan yang sudah terbiasa ngaji. Padahal, kami ingin daurah tersebut dapat diikuti banyak masyarakat. Alhamdulillah, ustadz Abu Sa’ad menerima alasan saya tersebut. Kemudian, kami (teman-teman panitia kajian) akhirnya memutuskan bahwa tempat daurah adalah di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada, dengan materi bedah buku karangan beliau Meluruskan Sejarah Wahabi, dan pelaksanaannya pada hari Sabtu, 29 Maret 2009. Dan walhamdulillah, banyak sekali peserta yang hadir, baik dari kalangan mahasiswa, maupun masyarakat umum.

Usai tengah malam Sabtu, 29 maret 2009. Itulah hari saya pertama kali bertemu beliau. Saya ketika itu mendapat tugas bagian transportasi. Namun, ada kesalahpahaman antara saya dengan beliau. Saya jemput beliau di Janti (tempat di Jogja yang biasa digunakan untuk menurunkan penumpang bus), sedangkan ustadz Turun di terminal Giwangan. Bagi orang Jogja, mungkin antara Janti dan Giwangan tidak terlalu jauh. Namun, ketika itu adalah tengah malam ketika tidak ada lagi angkutan umum dan tentu saja para pembaca pasti merasakan hal yang tidak menyenangkan bila terlalu lama menunggu seseorang. Tak lama setelah itu, setelah sadar bahwa saya benar-benar salah jemput, dengan penuh rasa bersalah saya pacu motor yang saya naiki menuju terminal Giwangan. Saya tidak tahu apa yang akan ustadz katakan jika bertemu saya, apalagi beliau dari perjalanan jauh, pasti kondisinya “sangat sumpek”, belum lagi beliau sudah menunggu lama di malam yang gelap, di terminal lagi.

Sesampainya di Giwangan, kulihat dua orang berpakaian muslim, lalu kudatangi mereka. Melihat gelagat saya, kedua orang tersebut mendekati saya. Dan begitu benar-benar dekat, ustadz Abu Ubaidah langsung merangkul saya dengan wajah ceria dan menyampaikan salam yang hangat. Masya Allah… Saya tidak tahu harus berkata apa. Betapa indahnya akhlak beliau. Itulah pertemuan pertama yang demikian membekas di hati saya hingga saat ini, dan tidak ingin saya lupakan. Mungkin tulisan ini tidak bisa menggambarkan keindahan akhlak beliau dengan utuh ketika itu. Sesungguhnya wajah ceria yang tulus dan ikhlas dengan yang dibuat-buat sangatlah berbeda. Dan saya lihat ketulusan dalam wajah beliau. Oh ya, seorang yang bersama beliau adalah al-akh Rifaq Ashfiya’ bin Aunur Rafiq Ghufron, yang tahun ini (2009) beliau diterima kuliah di Universitas Islam Madinah. Mudah-mudahan al-akh Rifaq dapat meneruskan perjuangan ayahnya, Ustadz Aun, dan perjuangan Ustadz Abu Ubaidah, yang kini jadi ipar beliau.

Akhirnya, karena demikian senangnya, saya naikkan kedua shahabat yang mulia tersebut ke dalam taxi dan saya pun tidak menawar-nawar harga ketika sopir menawarkan harga tinggi (karena tidak menerapkan tarif kargo). Saya tidak ingin mengganggu pikiran kedua tamu istimewa saya itu hanya dengan perdebatan dengan seorang sopir yang sedang mencari rizki Allah di malam yang gelap.

Ba’da shubuh (tentunya setelah ustadz Abu Ubaidah istirahat dengan cukup), kami mengundang beberapa ikhwan penuntut ilmu dari berbagai wisma untuk bertemu di Wisma Misfallah Thalabul ‘ilmi, markas para mahasiswa UGM, yang alhamdulillah para penghuninya memiliki keinginan bersama untuk menuntut ilmu syar’i di sela-sela kesibukan kuliah mereka. Beliau memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang sangat menyentuh untuk senantiasa istiqomah dalam thalabul ‘ilmi di jalan Allah. Masya Allah, kulihat ada ikhwan didekatku yang matanya sampai berkaca-kaca. Tidak saya jelaskan panjang lebar di sini nasehat beliau tersebut. Jika Allah memberikan kelonggaran waktu kepada saya, akan saya transkripkan nasehat indah beliau itu.

Oh maaf, sepertinya saya sudah terlalu banyak berpanjang lebar. Sekarang, kita masuk ke inti biografi beliau.

C. Nama dan kelahiran
Nama lengkap beliau adalah Muhammad Yusuf bin Mukhtar bin Munthohir As-Sidawi. Nama kunyah beliau adalah Abu Ubaidah. Beliau dilahirkan di desa Srowo, kecamatan Sidayu, kabupaten Gresik, Jawa Timur pada tanggal 17 Mei 1983. Beliau tumbuh di lingkungan keluarga yang sederhana.

D. Pertumbuhan beliau
Ketika Ustadz Abu Ubaidah berusia tujuh tahun, di saat beliau duduk di kelas dua MI (Madrasah Ibtidaiyyah), ayah beliau meninggal dunia secara mendadak karena sakit yang beliau derita –semoga Allah merahmatinya-. Setelah itu, Ustadz Abu Ubaidah diasuh oleh ibu dan saudara-saudari beliau.

Beliau menceritakan bahwa ketika kecil, beliau pernah ditanya tentang cita-cita hidup beliau. Sebagaimana layaknya anak-anak kecil lainnya, beliau menjawab, “Aku ingin menjadi dokter”. Ya Allah, mudah-mudahan cita-cita beliau tidak meleset karena di saat beliau dewasa, beliau menuliskan untaian kata,

“Aku ingin menjadi dokter hati dan penyakit yang menimpa umat”.

Saya katakan, “Ya Allah, kabulkanlah…”

E. Awal Mula Perjalanan Menuntut Ilmu
saya mencintaimu karena Allah, yaa Ustadz...Awal mula perjalanan ustadz Abu Ubaidah dalam menuntut ilmu syar’i, dimulai dari sebuah Program Anak Yatim yang dikelola oleh Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufron (yang kini menjadi mertua beliau). Setiap malam Jum’at, beliau dan beberapa anak Yatim satu desa setoran hafalan Al-Qur’an dan hadits Arbain Nawawi, serta belajar Kitab Tauhid, Bulughul Marom dan kitab-kitab lainnya.

Beliau mengikuti program ini kurang lebih antara tiga sampai empat tahun. Setelah beliau lulus MI, beliau diminta oleh al-Ustadz Aunur Rafiq bin Ghufran untuk sekolah di pesantren yang diasuhnya yang ada di desa beliau sendiri, yaitu Ma’had Al Furqon Islami.

Dalam risalahnya, Ustadz Abu Ubaidah menceritakan,

“Awalnya aku berpikir: “Untuk apa mondok, entar mau jadi apa?”

Namun alhamdulillah, berkat hidayah Allah, kemudian dukungan keluarga dan teman-teman serta tetangga, akhirnya beliau setuju juga untuk mondok.”

Beliau juga menceritakan saat-saat belajar di ma’had,

“Terus terang, awalnya saya hanya sekedar ikut-ikutan sekolah begitu saja tanpa arah dan niat yang jelas. Namun alhamdulillah dengan berjalannya waktu, aku merasakan nikmatnya mempelajari ilmu agama Islam sehingga 6 tahun lamanya, aku lalui studi di pesantren hingga selesai. Sungguh dari pesantren inilah aku mengenal ilmu dan agama yang sebenarnya. Dari pesantren inilah aku membaca, menghafal dan mengenal kitab-kitab para ulama, dari pesantren inilah aku mendapatkan banyak wawasan, teman dan pengalaman. Sungguh betapa indahnya hari-hari itu. ingin rasanya aku kembali menikmatinya!!. Semoga Allah membalas kebaikan kepada para guru yang telah mengajariku.”

Kemudian setelah lulus dari pesantren, beliau mengabdi dan mengajar di pesantren selama sekitar 2 tahun sambil mengembangkan bekal ilmu yang sudah beliau miliki. Di saat itu pula, beliau belajar berdakwah secara lisan dan tulisan.

Keinginan Ustadz Abu Ubaidah untuk menuntut ilmu langsung dengan para masyaikh ahlus-sunnah sangatlah besar. Beliau senantiasa berdoa, memohon kepada Allah dengan terus menerus agar dapat melakukan rihlah (perjalanan) dalam menuntut ilmu syar’i. Beliau berkata,

“Di sini (di Ma’had Al-Furqon-ed), aku merasakan lezatnya ilmu dan merasa bahwa ilmuku sangat minim sekali. Maka, saya berkeinginan kuat dan bersemangat tinggi untuk melanjutkan tholabul ilmi (perjalanan menuntut ilmu) ke luar Negeri dengan selalu berdoa kepada Allah terus menerus.”

Baarakallah fiikum ya Ustadz. Sesungguhnya kami mencintaimu karena Allah.

.

F. Belajar di Markaz Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
Alhamdulillah, Allah mengabulkann doa beliau sehingga Allah memudahkannya untuk belajar di Markaz Syaikh Ibnu Utsaimin di Unaizah, Qoshim, Saudi Arabia. Belau belajar langsung dengan para masayikh, yang merupakan menantu dan murid-murid senior Syaikh Ibnu Utsaimin,yaitu:

1. Syaikh Dr. Sami Muhammad, beliau adalah menantu Syaikh Ibnu Utsaimin dan imam Jami’ Ibnu Utsaimin. Ustadz Abu Ubaidah banyak belajar dari beliau fiqih, ushul fiqih dan qowaid fiqih, seperti kitab Zadul Mustaqni, Ar-Roudhul Murbi’, Al-Kafii, Zadul Ma’ad, Qowaid Ibnu Rojab, Al-Qowaid wal Ushul, Al-Ushul Min Ilmil Ushul, Umdatul Ahkam, Bulughul Marom dan masih banyak lagi kitab-kitab lainnya yang tidak bisa disebut semua, terutama risalah-risalah Syaikh Ibnu Utsaimin dan Syaikh as-Sa’di yang kita pelajari saat liburan sekolah.

2. Syaikh Dr. Khalid al-Mushlih, beliau juga menantu Syaikh Ibnu Utsaimin. Ustadz Abu Ubaidah banyak belajar dari beliau aqidah, tafsir, fiqih nawazil dan adab/tazkiyah, seperti tsalatsal ushul, kasyfu syubuhat, kitab tauhid, aqidah salaf, al-Iqtishod, al-Hamawiyah, Aqidah Ibni Abi Dawud, Al-Iqtishod fil I’tiqod, Tajrid Tauhid, Fiqhu Nawazil karya beliau sendiri, Tafsi as-Sa’di, Adab Syar’iyyah dan kebanyakan risalah imam Ibnu Rojab.

3. Syaikh Dr. Abdur Rahman bin Shalih ad-Dahsy. Beliau adalah murid senior Syaikh Ibnu Utsaimin dan seorang yang sangat memiliki akhlak yang indah. Ustadz Abu Ubaidah banyak belajar dari beliau tentang ilmu Tafsir, bahasa, hadits dan Siroh. Di antara kitab yang dipelajarinya ialah Tafsir Jalalain, Shohih Bukhori dan Muslim, Umdatul Ahkam, Al-Ajurrumiyah, Alfiyah Ibnu Malik, al-Qowaid Tsalatsun, al-Fushul i Sirotir Rasul dan lain sebagainya.

Ustadz Abu Ubaidah juga banyak mengambil faedah dengan melihat langsung praktek nyata akhlak mulia yang diterapkan oleh para masayikh dan ulama sunnah di sana, demikian juga cara penyampaian dan pengajaran ilmu yang bagus, tersusun, berbobot dan mudah difahami.

Di samping itu, beliau juga mendapatkan faedah dari keberadaan beliau di sana, dengan dapat menunikan ibadah haji dan umroh berkali-kali dan bertemu para ulama sunnah seperti:
1. Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh,
Beliau adalah Mufti Kerajaan Saudi Arabia sekarang ini.

2. Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad,
Beliau adalah salah satu ahli hadits besar yang tersisa di masa ini. Beliau pernah menjabat sebagai rektor Universitas Islam Madinah menggantikan Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Sekarang, beliau menjadi guru besar ilmu hadits di Masjid Nabawi Madinah Saudi Arabia.

3. Syaikh Shalih al-Fauzan
Beliau adalah ulama besar, anggota Ha’iah Kibarul Ulama Saudi Arabia. Beliau mengisi tiga kali muhadharah di Jami’ Ibnu Utsaimin selama Ustadz Abu Ubaidah masih di sana),

4. Syaikh Shalih al-Luhaidan
Beliau adalah mantan Ketua Mahkamah Syari’at di Saudi Arabia. Beliau mengisi di Jami’ Ibnu Utsaimin dua kali selama ustadz Abu Ubaidah masih di sana.

5. Syaikh Sa’ad asy-Syatsri
Beliau adalah anggota Lajnah Daimah. Beliau mengisi di Jami Ibnu Utsaimin sekali selama Ustadz Abu Ubaidah masih di sana.

6. Dan masih banyak para masyaikh yang lain.

Pengajaran para masyaikh demikian membekas di hati ustadz Abu Ubaidah sehingga beliau pernah berkata,

“Semoga Allah membalas kebaikan kepada para masayikh di sana yang banyak memberikan faedah kepadaku. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk hamba-hambaMu yang bersyukur atas segala nikmatMu yang banyak kepada hambaMu yang lemah dan banyak berdosa ini.”

Masya Allah ya ustaadz.. Semoga Allah juga membalas kebaikan Antum kepada kami.

Ustadz Abu Ubaidah belajar di Markaz Ibnu Utsaimin kurang lebih empat tahun lamanya. Belum lama Ustadz Abu Ubaidah pulang ke Indonesia (beberapa bulan sebelum saya tulis risalah ini). Begitu saya mendengar ustadz Abu Ubaidah selesai studi di Unaizah, saya langsung “menembak” beliau untuk mengisi kajian umum di Yogyakarta. Na’am, alhamdulillah kajian itu terlaksana pada 21 Mei 2009 di Masjid Pogung Raya, dengan tema Menjaga Diri dari Fitnah Syubhat dan Syahwat.

.

G. Berdakwah Dengan Tulisan
Di sela-sela perjalanan beliau menuntut ilmu, beliau meluangkan waktu untuk berdakwah dengan tulisan sehingga al-hamdulillah hingga saat ini beliau sudah menulis beberapa buku sebagai berikut:semoga Allah meneguhkan perjuanganmu, wahai ustadz...
I. Buku yang Tidak Tercetak
Buku yang pertama kali beliau tulis adalah Al-Wajiz Fii Aqidah Salaf Ashabil Hadits, yang diberi kata pengantar oleh Al-Ustadz Al-Fadhil Aunur Rafiq Ghufron. Buku ini beliau tulis dalam bahasa Arab pada tanggal 8/2/1424 H. Beliau ketik sendiri buku tersebut lalu beliau harokati satu-satu persatu, lalu beliau cetak sendiri. Kemudian, beliau jadikan sebagai panduan jama’ah pengajian beliau di Masjid Jihad Gresik.
II. Buku yang tercetak

  1. Syaikh Albani Dihujat, cet Pustaka Abdullah Jakarta dan sekarang dicetak ulang oleh Salwa Press Tasikmalaya. Ini adalah buku pertama beliau yang diberi kata pengantar oleh para ustadz mulia, yaitu; Ustadz Abu Auf As-Salafy Abdur Rahman at-Tamimi, Ustadz Aunur Rafiq, Ustadz Abdul Hakim Abdat, Ustadz Mubarok Ba Muallim.
  2. Meluruskan Sejarah Wahhabi, cet Pustaka Alfurqon
  3. Membela Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, cet. Salwa Press
  4. Hadiah Istimewa Untuk Si Buah Hati, cet Media Tarbiyah
  5. Waspada Terhadap Kisah-Kisah Tak Nyata, cet Alfurqon
  6. Hadits Dhoif Populer, cet Media Tarbiyah
  7. Dimana Allah? Cet Media tarbiyah
  8. Polemik Perayaan Maulid Nabi, cet Pustaka Nabawi
  9. Bangga Dengan Jenggot, cet Pustaka Nabawi
  10. Demonstrasi, Solusi Atau Polusi? Cet Darul Ilmi
  11. Ustadz Abu Ubaidah juga menulis buku bersama shahabat beliau, Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa Al-Atsari (ketika risalah ini saya tulis, beliau masih di Markaz Syaikh Ibnu Utsaimin Unaizah Saudi). Buku-buku tersebut adalah:
  • Bekal Safar Menurut Sunnah, cet. Media Tarbiyah
  • Agar Ziarah Kubur Membawa Berkah, cet. Media Tarbiyah
  • Fiqih Praktis Makanan, cet. Pustaka Al-Furqon
  • Amalan Sunnah Bulan Hijriyah, cet. Darul Ilmi

.

III. Buku-Buku yang akan terbit
Di antara beberapa buku yang insyallah sebentar lagi akan terbit adalah:

  1. Adakah Siksa Kubur? Insya Allah akan diterbitkan oleh penerbit Darul Ilmi
  2. Panduan Praktis Adzan dan Iqomat. Insya Allah akan diterbitkan oleh penerbit Darul Ilmi
  3. Pengeboman, Jihad atau Terorisme? Insya Allah akan diterbitkan oleh penerbit Pustaka Al Furqon

Ya Ustaadz, kami berdoa kepada Allah agar senantiasa menjadikan Anda ikhlas dalam beramal dan menjadikan tulisan-tulisan Anda bermanfaat bagi semua hamba-Nya, di manapun berada.

Demikianlah biografi singkat Ustadz Abu Ubaidah As-Sidawi. Semoga perjalanan beliau dalam menuntut ilmu dapat memberi faidah bagi kita. Dalam risalah asli biografi beliau, beliau menuliskan untaian kata, yang beliau tujukan kepada kita semua, para pembaca blog beliau (www.abiubaidah.wordpress.com). Beliau menyampaikan,

“Doa para pembaca semua sangat kami harapkan agar kami tetap di atas jalan yang lurus dan kelak menjadi penduduk surga yang penuh dengan kenikmatan.”

.

F. Di antara Untaian Nasehat Beliau

Ada banyak untaian faidah yang saya petik dari tulisan-tulisan beliau di majalah Al-Furqon, buku-buku beliau, dari lisan beliau, maupun dari akhlak beliau. Namun, karena khawatir tulisan ini jadi terlalu panjang, dan biografi ustadz yang ditunggu-tunggu pembaca tidak segera dimuat di blog beliau, saya tuliskan empat saja pelajaran yang saya petik dari beliau, yaitu:

1. Jangan Remehkan Faidah

  • Beliau menasehati kita untuk tidak menyepelekan mencatatan faidah ilmiah. Beliau berkata,

“Jangan sekaali-kali menganggap sepele sebuah faidah, karena satu faedah diremehkan… kemudian diremehkan… kemudian diremehkan…; kalau dikumpulkan, maka akan terkumpul banyak sekali.”

2. Jagalah Ilmu dengan Tulisan

  • Di antara nasehat beliau (ditulis ketika beliau menyusun Muqaddimah rubrik Al-Fawa’id Majalah Al-Furqon),

Tulisan sangat penting untuk menjaaga ilmu, lebih meresap dalam hafalan, memudahkan kita untuk membaca ulang terutama apabila dibutuhkan, bisa dibawa ke sana kemari, dan sebagainya. Betapa seringnya seorang yang menyepelekan sebuah faedah karena mengandalkan hafalannya seraya mengatakan, “Ah, gampang… Insya Allah saya tidak lupa”; akhirnya dia lupa dan berangan-angan aduhai sekiranya dahulu ia menulisnya.

3. Beliau memberi nasehat untuk senantiasa menjauhi kebiasaan plagiat dan mendorong kita untuk menghargai jasa orang lain. Beliau berkata,

Terkadang kita mendapatkan sebuah faedah berharga dari seorang kawan yang telah bersusah payah mendapatkannya, tetapi setelaah itu kita menasabkannya kepada diri kita tanpa mengingat jerih payah saudara kita. Jangan, sekali-kali jangan! Hindarilah perangai jelek ini. Hargailah jasa orang lain padamu! Semoga Allah memberkahi ilmumu.

4. Ulangi Terus Apa yang Telah Kau Pelajari

Apabila Anda telah memiliki buku yang menghimpun masalah-masalah penting ini, maka seringlah Anda membacanya bekali-kali, baik dengaan diajarkan kepada oang lain secara lisan atau tulisan, atau sekadar dibaca sendiri, karena ilmu apabila tidak sering diulang-ulang, maka lambat laun akan pudar dari ingatan.

.

G. Penutup

Demikianlah, sedikit risalah ringkas perjalanan hidup Ustadz mulia Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi yang dapat saya susun. Barangkali di antara pembaca, ada yang lebih mengenal beliau daripada saya, apalagi saya pertama kali mengenal beliau baru sekitar satu tahun yang lalu. Itu pun kami hanya bertemu beberapa saat. Boleh di kata kalu di total, keseluruhan waktu perjumpaan saya dengan beliau hanya sekitar 50 jam, atau bahkan mungkin kurang. Namun, dari sedikit pertemuan itu, masya Allah, demikian benyak faedah yang dapat saya ambil dari beliau. Mengenai hal ini, saya teringat perkataan Sulaiman bin Musa,

“Saudara Anda di dalam Islam adalah orang yang apabila Anda berkonsultasi dengannya dalam urusan agama, maka Anda akan menemukan ilmu pada dirinya. Dan apabila Anda berkonsultasi dengannya mengenai urusan dunia, maka Anda akan menemukan pendapat pada dirinya

(Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’, VI/87)

Na’am, walhamdulillah, apa yang dikatakan Sulaiman bin Musa, saya dapati pada Ustadz Abu Ubaidah. Ya Allah, semakin saya mengenal beliau, saya semakin merasa kering bergaul dengan teman-teman kampus yang pembicaraannya tidak lepas dari hal-hal fasiq atau minimal tidak menambaah faidah ilmu (Ya Allah, bimbinglah kawan-kawanku itu). Saya rasa cukuplah kita mengenal seorang shalih, yang dapat mendatangkan kesejukan hati, daripada kita mengenal ribuan orang, tetapi tidak dapat memberikan tambahan ilmu dan faidah bagi diri kita. Betapa banyak manusia senang mendapat teman yang banyak, namun ia tidak memilah-milih apakah temannya itu fasiq atau bukan.

Wahai saudaraku pembaca mulia, berdoalah kepada Allah agar kita bisa berteman dengan orang-orang shalih, yang memiliki perhatian terhadap ilmu syar’i sehingga dapat menyejukkan hati kita. Saya tutup risalah ini dengan perkataan Abul Qa’qa’ Muhammad bin Shalih dalam kitab beliau yang berjudul كيف تتحمس لطلب العلم الشرعي؟, halaman 212:

إن مما يعين على التحمس لطلب العلم الشرعي, الجلوس مع أهل العلم الربانيين, و الحديث معهم, و سؤالهم عما أشكل عليك في أمري دينك, سواءً بالهاتف أو بالبريد أو عن طريق المقابلة الشخصية وجها لوجه, و كذا زيارتهم في بيوتهم و الحرص على مخالطتهم و القرب منهم و التودد إليهم, و ذلك أن مجالسة هؤلاء العلماء الربانيين و مخالطتهم يستفيد منها المرء فوائد عديدة من أهمها:

  • الجلوس مع العلماء الربانيين يقوي الإيمان و يرقق لقلب, و يشعل الهمة و يوقد الحماسة للطاعة, فينصرف المرء من مجالسهم و قد امتلأ قلبه إيمانا و يقينا, و قد تحركت همته لنصر هذا الدين.
  • مجالسة العلماء الربانيين و مخالطتهم تكشف لك مدى ما هم عليه من إخلاص لله و ورع و تقوي و زهد في هذه الدنتا الفانية, فتتمنى أن تكون مثلهم فيزيدك ذلك اجتهادا في تحصيل العلم

Sesungguhnya duduk bersama ulama rabbani bisa memotivasi semangat menuntut ilmu syar’i. Berbicara dengan mereka, bertanya tentang sesuatu yang sulit dalam masalah agama, baik lewat telepon, surat, atau bertemu langsung. Begitu juga berkunjung ke rumah mereka, berusaha untuk selalu bersama mereka, dekat dan akrab dengan mereka. Karena seseorang yang duduk bersama ulama rabbani dan bergaul dengan mereka, akan mendapatkan faidah di antaranya:

  • Duduk bersama ulama rabbani akan menguatkan keimanan dan melembutkaan hati, membakar semangat dan memotivasi untuk melakukan ketaatan. Setelah seseorang bergaul dengan mereka, hatinya akan dipenuhi keimanan dan keyakinan. Semangatnya akan tergerak untuk membela agama ini.
  • Duduk bersama ulama rabbani dan bergaul dengan mereka akan memperlihatkan betapa ikhlas, wara’, takwa, dan zuhud mereka kepada dunia. Sehingga Anda berharap agar bisa seperti mereka. Itu akan menambah semangat Anda untuk belajar ilmu.

Catatan:

Ini hanya biografi ringkas yang dapat kami sajikan. Insya Allah, kami masih akan terus melengkapi risalah ini, jika dimudahkan Allah.

.

Yogyakarta, 23 Syawal 1430 (13 Oktober 2009)

di pagi yang cerah di Wisma Misfallah Thalabul ‘Ilmi

Abu Muhammad Al-‘Ashri

www.alashree.wordpress.com

About these ads

Filed under: Kisah, , ,

One Response

  1. salafiyunpad mengatakan:

    HADIRILAH….

    KAJIAN ISLAM INTENSIF UNTUK UMUM

    Bersama :
    Al Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

    Waktu:
    Jum’at – Ahad, 23- 25 Oktober 2009

    Pukul 08.00 WIB s.d. Selesai

    Termpat :
    Masjid Jajar, Surakarta

    Materi/Kitab :
    1. Haji Bersama Rasulullah
    (Kitabul Hajj, dari Bulughul Maram)
    2. Identifikasi Total terhadap Pemahaman Firqoh Khawarij

    Insya Allah Kajian bisa diikuti secara online/live via :
    1. Paltalk : room Salafiyin
    2. YM : mahad_ilmi
    3. Web : http//jajar.890m.com
    4. Radio Al Madinah 101.9 FM (Khusus Surakarta dan sekitarnya)

    Kontak Panitia :
    Arif Hidayat : 081 2153 8967,
    Yasir : 0271-8096065,
    Abu ‘Athif : 0271-7576679

    http://salafiyunpad.wordpress.com/2009/10/14/dauroh-3-hari-bersama-al-ustadz-al-fadhil-dzulqornain-solo23-25-oktober-2009/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat email Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 150 pengikut lainnya.

My Twitter

  • Tim Peduli Muslim rapat perubahan agenda program khitanan massal NTT, di Lounge Bandara Jogja, karena ada... fb.me/6WcU3vlWq=> ditulis pada 13 hours ago
  • Jalanan di kota Shan'a .... [pic] — path.com/p/3GifEy=> ditulis pada 21 hours ago
  • Kalau puasa Arafah harus disesuaikan dengan wukuf, konsekuensinya orang yang tinggal di Sorong / belahan dunia... fb.me/1vJNETNa3=> ditulis pada 21 hours ago
  • Alhamdulillah, sampai malam ini (29 September 2014), jumlah pendaftar khitan di NTT mencapai 1.100 orang… — path.com/p/2ArlCo=> ditulis pada 1 day ago
  • But I guess that's just the way the stroy goes ...=> ditulis pada 1 day ago
  • Bulan Oktober 2014 ini, Peduli Muslim menebar relawannya untuk menjalankan misi sosial di tiga negara berikut: 1.... fb.me/6KM5NjPVS=> ditulis pada 1 day ago
  • Ahhh, seneng aku kisanak Parsono masuk daftar nama tambahan yang diterima di Madinah ... fb.me/3AOF14eq9=> ditulis pada 1 day ago
  • أسأل الله العظيم رب العرش العظيم أن يشفيه fb.me/1AANWjDMk=> ditulis pada 2 days ago
  • Wahai ISIS, hanya karena pasukan koalisi (Amerika, cs) menyerangmu, itu tidak berarti kamu benar ... ---- *)... fb.me/7sg2g11Zo=> ditulis pada 2 days ago
  • Tubuh sudah terasa lelah, remuk redam ... Ingin sejenak merebahkan diri ... Semoga bangun, fit lagi ....=> ditulis pada 2 days ago
  • Update shahibul qurban (per: 28/09/2014 @ 08:43) yang menitipkan hewan qurbannya melalui tim Peduli Muslim, untuk... fb.me/1MTaEQ6yJ=> ditulis pada 2 days ago
  • Lihat keromantisan singa ini, aku dadi eling Agus Mulyadi ... Semoga beliau segera mendapatkan pujaan hatinya ...... fb.me/3FlgrBHpB=> ditulis pada 2 days ago
  • It's a long road, when you face the world alone ....=> ditulis pada 2 days ago
  • Statusnya Ketua Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari ... Selain memanage yayasan, beliau juga berpraktik sebagai... fb.me/3bf3mc0ji=> ditulis pada 2 days ago
  • Surat sakti > menuju Suriah fb.me/6NE7fNTeE=> ditulis pada 3 days ago
  • Layanan publik paling the best menurut saya saat ini adalah TELKOM dengan fasilitas call 147-nya. Sudah beberapa... fb.me/3PMjPFmni=> ditulis pada 3 days ago
  • Barakallah fi ra'isid daulatina .... fb.me/6KujqSNJ4=> ditulis pada 3 days ago
  • Jawaban seorang temannya teman si muridnya sang murid pendekar sejati. #Biadalahh=> ditulis pada 4 days ago
  • I see something more beautiful than the stars <3=> ditulis pada 4 days ago
  • Torabika Moka di tangan kiri, Gorengan di tangan kanan, tinggal jodoh yang masih di tangan Tuhan... by Gus Mulyadi fb.me/1ThmiN1YN=> ditulis pada 5 days ago

Copyright

“Aku akan merasa bahagia, jika semua orang mempelajari ilmu ini, dan sama sekali tidak menyandarkannya padaku.” -Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i-

Milis Sunni Homeschooling

YM: ginanjar.indrajati

Perhatikan Temanmu

صديقي من صادقني لا من صدقني وعليك بمن ينظر الإفلاس والإبلاس وإياك من يقول لا باس لا باس. Teman baikku adalah orang yang jujur kepadaku, bukan orang yang suka membenarkanku. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan akan kerugian-kerugian. Dan hati-hatilah terhadap orang yang suka mengatakan: Tidak mengapa… Tidak mengapa…
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 150 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: