Catatan Harianku

العلماء هم ضالتي في كل بلدة وهم بغيتي ووجدت صلاح قلبي في مجالسة العلماء // Orang-orang yang berilmu agama adalah orang yang kucari di setiap tempat. Mereka adalah tujuan yang selalu kucari. Dan aku menemukan keshalihan hatiku di dalam bergaul dengan mereka. (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء , IV/85 )

Rahasia اللام dan على dalam Doa Pernikahan


Pembaca mulia, sebagai seorang muslim, kita tentu sering mendengar –bahkan sejak kita kecil- bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling jelas dan paling indah sehingga dipilih sebagai bahasa Al-Qur’an, bahasa umat Islam.

Namun, barangkali kebanyakan di antara kita sering timbul pertanyaan, “Di mana letak keindahan bahasa Arab?” atau “saya membaca terjemahan Al-Qur’an kok biasa-biasa saja, tidak sesuai kaidah bahasa Indonesia lagi atau jika disesuaikan, malah kaku jadinya” atau pertanyaan-pertanyaan semisal.

Pembaca mulia, apakah kita pernah mempelajari bahasa Arab? Jika jawabannya “Belum”, sangat wajar apabila pertanyaan-pertanyaan di atas dapat muncul. Sesunggunya siapa pun yang tidak menguasai bahasa Arab, tidak akan bisa mengetahui, di mana letak keindahannya.

Nah, untuk mengungkap seluruh keindahan bahasa Arab, tentunya tidak akan cukup dalam satu artikel. Dalam kesempatan ini, penulis akan coba ketengahkan salah satu rahasia bahasa Arab dalam hal preposisi (kata depan) semata. Ya, sebatas preposisi pun mempunyai makna yang dalam.

Alasan ditulisnya artikel ini adalah ketika beberapa waktu yang lalu, penulis mendapat undangan pernikahan dari salah seorang ikhwan. Dalam undangan tersebut, teretera doa walimah

بارك الله لك و بارك عليك و جمع بينكما في خير1

/baarakallahu lak, wa baaraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fii khair/

Doa di atas, sering diterjemahkan

Semoga Allah memberi berkah padamu, dan semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

Sekilas, terjemahan di atas sudah tampak benar. Akan tetapi, terjemahan tersebut belumlah mewakili makna yang terkandung dalam doa walimah tersebut.

Setelah melihat undangan tersebut, penulis menjadi teringat penjelasan Al-Ustadz Al-Fadhil Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif tentang perbedaan preposisi اللام dan على dalam doa walimah secara khusus, dan dalam penggunaan bahasa Arab secara umum. Hal ini beliau sampaikan ketika beliau memberi materi dalam daurah bahasa Arab kelas takhossus Angkatan XI pertengahan tahun 2006 di Ma’had Al-Furqon Gresik. Beliau juga memberikan faidah tambahan setelah menjelaskan makna doa walimah tersebut, yang insya Allah akan penulis tuangkan dalam artikel ini.

Rahasia Preposisi اللام dan على
Pembaca mulia, bila dilihat secara leksikal, memang tidak salah apabila kita menemui kalimat

بارك الله لك و بارك عليك و جمع بينكما في خير

Lalu kita terjemahkan,

Semoga Allah memberi berkah padamu, dan semoga Allah memberi berkah atasmu, dan semoga Ia mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan

Pertanyaannya adalah, “Apakah pembaca dapat membedakan makna padamu dan atasmu dalam terjemah doa walimah di atas? Tentu tidak bisa bukan?

Penjelasan
Pembaca mulia, preposisi اللام /laam/ secara harfiyyah artinya memang bisa diterjemahkan ‘pada’. Adapun على /’alaa/ dapat diterjemahkan ‘di atas’. Akan tetapi, jika kedua preposisi tersebut terdapat dalam satu kalimat secara bersamaan, makna preposisi tersebut tidak bisa lagi diterjemahkan secara harfiyyah’ pada’ atau ‘di atas’ lagi. Namun, makna اللام menunjukkan makna yang baik, sedangkan menunjukkan makna yang buruk. Oleh karena itu, jika memerhatikan hal ini, doa walimah di atas jika diterjemahkan akan menjadi panjang, yaitu:

“Semoga Allah memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis, dan semoga Allah (tetap) memberi berkah padamu di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara), dan semoga Dia (Allah) mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan”.

Nah, bagaimana arti di saat rumah tanggamu dalam keadaan harmonis bisa muncul? Jawabnya adalah karena adanya preposisi اللام yang makna menunjukkan hal-hal yang baik jika disandingkan dengan preposisi على dalam satu kalimat. Konteks kalimat di atas adalah pernikahan, sehingga diketahui secara pasti bahwa hal-hal yang baik dalam pernikahan adalah ketika pasangan hidup dalam keadaan harmonis.

Demikian pula sebaliknya, arti di saat rumah tanggamu terjadi kerenggangan (terjadi prahara) dapat muncul sebagai terjemahan dari preposisi على . Preposisi ini akan menunjukkan makna yang buruk jika disandingkan dengan preposisi اللام dalam satu kalimat. Konteks kalimat di atas adalah penikahan, sehingga diketahui secara pasti bahwa hal-hal yang buruk dalam penikahan adalah ketika pasangan hidup mengalami kerenggangan atau prahara dalam rumah tangganya.

Hal ini membawa pelajaran penting bagi setiap orang yang akan menikah bahwa Nabi sudah mengisyaratkan dalam rumah tangga yang akan dihadapi tidaklah selamanya dalam keadaan yang bahagia dan harmonis. Setelah menikah nanti, seorang istri akan melihat sisi lain dari sang suami, yang tidak ia ketahui sebelum menikah. Demiakian pula sebaliknya, sang suami akan melihat banyak hal yang tidak diketahuinya dari si istri setelah ia bergaul dengan istri beberapa hari pasca pernikahan. Pertengkaran sangat mungkin terjadi antara suami dengan istri, yang bisa muncul karena adanya kecemburuan, kesalahan dari salah satu pihak, bahkan karena adannya hal-hal sepele sekalipun. Dalam kondisi prahara ini, Nabi mengisyaratkan bahwa Allah bisa akan tetap memberi berkah pada suami istri tersebut. Bagaimana sikap suami ketika mengadapi kesalahan istri, demikian pula bagaimana istri ketika menghadapi kesalahan suami adalah hal-hal yang telah diajarkan dalam syariat Islam.

Anggapan bahwa rumah tangga selamanya 100% akan harmonis, tanpa ada perselisihan dan pertengkaran adalah anggapan yang keliru. Bagi yang sudah menikah, tentu mengetahui hal ini. Nabi kita yang mulia, memberi sifat bagi wanita bahwa mereka adalah kaca-kaca, sebagaimana dalam sabdanya,

ارفق بقوارير

Lembutlah kamu kepada kaca-kaca (maksudnya para wanita)

Dalam kitab Fathul bari, dijelaskan bahwa wanita disamakan dengan kaca karena begitu cepatnya mereka berubah dari ridho menjadi tidak ridho, dan karena tidak tetapnya mereka (mudah berubah sikap dan pikiran), sebagaimana kaca yang mudah untuk pecah dan tidak menerima kekerasan.2

Oleh karena itu, ulama jenius, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, memberikan nasehat kepada kita tentang wanita,

Sebuah kata yang Engkau ucapkan bisa menjadikannya menjauh darimu sejauh bintang di langit, dan dengan sebuah kata yang Engkau ucapkan, bisa menjadikannya dekat di sisimu.”3

Bahkan, Nabi sendiri juga menjelaskan bahwa sangat memungkinkan suami akan mendapati hal-hal yang tidak ia kehendakai pada istrinya, tetapi hal tersebut Nabi larang dijadikan alasan untuk membenci istrinya tersebut, sebagaimana dalam sabda beliau

لا يفرك مؤمن مؤمنة إن كره منها خلقا رضي منها آخر

Janganlah seorang mukmin benci kepada seorang wanita mukminah (istrinya). Jika ia membenci sebuah sikap (akhlak) istrinya, maka ia akan ridho dengan sikapnya (akhlaknya) yang lain)”4

Maka, benarlah apa yang pernah disampaikan Al-Ustadz Firanda bahwa

“Suami yang paling sedikit mendapat taufiq dari Allah dan yang paling jauh dari kebaikan adalah seorang suami yang melupakan seluruh kebaikan-kebaikan istrinya, atau pura-pura melupakan kebaikan istrinya dan menjadikan kesalahan-kesalahan istrinya selalu di depan matanya. Bahkan terkadang kesalahan istrinya yang sepele dibesar-besarkan, apalagi dibumbui dengan prasangka-prasangka buruk yang akhirnya menjadikannnya berkesimpulan bahwa istrinya sama sekali tidak memiliki kebaikan.”

Ustadz Firanda juga menyampaikan bahwa di antara yang dilakukan syaitan kepada suami tatkala marah kepada istrinya ialah dengan berkata,

” Sudahlah ceraikan saja dia, masih banyak wanita yang shalihah, cantik lagi.., ayolah jangn ragu-ragu…” Syaithan juga berkata, “Cobalah renungkan jika Engkau hidup dengan wanita seperti ini.., bisa jadi di kemudian hari ia akan membangkang kepadamu… Atau syaithan berkata, “Tidaklah istrimu itu bersalah kepadamu kecuali karena ia tidak menghormatimu.. atau kurang sayang kepadamu, karena jika ia sayang kepadamu ia tidak akan berbuat demikian.”

—Selesai penjelasan Ustadz Firanda—

Demikianlah, syaithan berusaha memisahkan hubungan antara suami dengan istri. Kesempatan yang tidak disia-siakan syaithan adalah ketika suami melihat satu kesalahan istrinya, maka syaithan akan membisiki sang suami untuk menjauhinya sampai menceraikannya. Namun, ingatlah kembali lafadz بارك عليكSemoga Allah memberi berkah kepadamu ketika kamu ditimpa prahara’ ketika manusia mengucapkannya di saat Anda menikah dulu.

Lalu, bagaimana agar Allah tetap memberi berkah ketika rumah tangga ditimpa prahara dan pertengkaran? Ketika penulis berupaya menyusun risalah untuk menjawab pertanyaan ini, penulis sudah membayangkan berpuluh-puluh halaman untuk menyelesaikannya. Maka, hal tersebut akan penulis sajikan dalam artikel tersendiri. Namun, satu kunci pembuka untuk menjawab pertanyaan di atas adalah sabda Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ألا إن المرأة خلقت من ضلع و أنك إن ترد إقامتها تكسرها فدارها تعش بها

Ketahuilah bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan jika Engkau ingin meluruskannya, maka Engkau akan mematahkannya. Oleh karenanya, berbasa-basilah! Niscaya Engkau bisa menjalani hidup dengannya.”5

Maka, benarlah perkataan Adh-Dhohak,

Jika terjadi pertengkaran antara seorang dengan istrinya, janganlah ia bersegera untuk mencerainya. Hendaknya ia bersabar terhadapnya , mungkin Allah akan menampakkan dari istrinya apa yang disukainya.”6

Bumi Allah,

Ahad, 26 April 2009 pukul. 20.57

Ketika dinginnya malam semakin merasuk ke dalam tubuhku….

—Abu Muhammad Al-Ashri—

____________________________FOOTNOTE________________________________

1] Lihat kitab المستدرك على الصحيحين /al-mustadral ‘ala shahihain/, karya محمد بن عبدالله أبو عبدالله الحاكم النيسابوري /Muhammad bin Abdillah Abu ‘Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi/, cet. I Beirut, tahun 1411 H / 1990 M : Darul Kutub Al-Ilmiyyah, tahqiq: Musthafa Abdul Qadir Atha, juz II, hal. 199, hadits nomor: 2745. Kitab ini dicetak bersama kitab تعليقات الذهبي في التلخيص /ta’liqat Adz-Dzahabi fi At-Talkhiis/.

2] Periksan dalam Fathul Bari X/545

3] Periksa dalam kitab Syarhul Mumti’, XII/385.

4] Lihat kitab صحيح مسلم /shahihil muslim/, karya مسلم بن الحجاج أبو الحسين القشيري النيسابوري /Muslim bin Al-Hajjaj Abul Husain Al-Qusyairi An-Naisaburi, cet. Beirut: Daar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi, juz. II, hal. 1091, hadits nomor: 1469. Kitab ini dicetak bersama kitab تعليق محمد فؤاد عبد الباقي /Ta’liq Muhammad Fuad Abdul Baqi/.

5] Lihat Kitab Lihat kitab المستدرك على الصحيحين /al-mustadral ‘ala shahihain/, karya محمد بن عبدالله أبو عبدالله الحاكم النيسابوري /Muhammad bin Abdillah Abu ‘Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi/, cet. I Beirut, tahun 1411 H / 1990 M : Darul Kutub Al-Ilmiyyah, tahqiq: Musthafa Abdul Qadir Atha, juz 4, hal. 192, hadits nomor: 7334. Kitab ini dicetak bersama kitab تعليقات الذهبي في التلخيص /ta’liqat Adz-Dzahabi fi At-Talkhiis/.

6] Periksa kitab Ad-Dur Al-Mantsur II/465

——————-

Baca Artikel Terkait:

About these ads

Filed under: Cinta, Fiqh Pernikahan, , , , , , , , , ,

48 Responses

  1. Hartoyo Ahmad Jaiz mengatakan:

    Barakallahu fiyk..
    Artikel yang bagus.

    Sepertinya antum berbakat menjadi penulis..

    Amin..

  2. آمين, و فيك بارك الله

  3. fastaqiem mengatakan:

    Assalamu’alaikum
    oya izin copy ya..

  4. Na’am. Silakan, بارك الله فيك

  5. akmal mengatakan:

    nderek ngopi..

  6. # Akmal

    Na’am. Silakan, بارك الله فيك

  7. Niswah Hasanah mengatakan:

    Subhanallah…
    Ana baru tau arti sesungguhnya setelah membaca artikel ini.
    Ana izin copy paste ya tuk teman2.
    jazakumullah khair.

  8. Niswah Hasanah mengatakan:

    ‘afwan,… sebelumnya ga lihat tulisan ini -> FB Ini Hanya Boleh di Klik Ikhwan

  9. # Niswah
    saya memang mengharuskan diri saya untk tidak meng-add wanita (khususnya yang bukan mahram). Dan saya juga ingin menasehati setiap kaum muslimin agar tidak bermudah-mudahan dalam berkomunikasi dengan lawan jenis.

    Na’am silakan dicopy.

  10. badar online mengatakan:

    Artikel bagus akhi, ana posting di Badar ya.
    BarakAllah fikum..

  11. # Badar Online
    Silakan, بارك الله فيك

  12. tedi mengatakan:

    subhanallah…artikelnya bagus akhi,,
    af1 izin copy ya
    jazakumullah ya akhi..

  13. muhammadzulfa h.m mengatakan:

    hayyakmllah,syukran jazilaan atas penafsrannya,smga allah mmbrkan kbrkahn pd antm n klwarga antm smw,n smga allah mmblz dng se baik2nya pmblzn

  14. Aziz mengatakan:

    Assalamu’alaikum…..
    izin copy iaa…..
    Syukron

  15. sekaralit mengatakan:

    subhanallah..
    makasih kakak.

  16. Sadat ar Rayyan mengatakan:

    Assalamu’alaykum

    Ijin ngopy dan repost akh..

    Jazakallaahu khairan

  17. Silakan akh. Selanjutnya tidak usah izin lagi…

  18. planet aqidah mengatakan:

    artikel menarik

  19. Herri Achya Suryadikatma mengatakan:

    Assalamu’alaikum Afwan !
    Ana masih awam… mohon bimbingnnya ..ana boleh bertanya… artikel diatas subhanallah sangat bagus….. tp itu contoh kasus suami terhadap istrinya.. bagaimana jika sebaiknya yg bersikap seperti itu istrinya ?
    Syukran

  20. imran mengatakan:

    artikelnya bagus….ana minta yah…..,

  21. @ Herri

    Tentang bagaimana sikap istri bersikap kepada suaminya, saya merasa belum pantas menulis hal itu. Memperbaiki “kaum sendiri” lebih saya utamakan sebelum memperbaiki “kaum yang lain”. Apalagi, secara pribadi saya merasa masih jauh dari yang saya tulis.

  22. Muhammad (Zul) Karnaen Nasution mengatakan:

    duhai betapa indahnya bahasa arob, duhai betapa indahnya jadi orang berilmu… barokallhufikum

  23. Abu Fikri mengatakan:

    Subhanallah,
    semoga Allah selalu melimpahkan Rahmat-Nya pada antum, izin copy untuk dibroadcast ke teman-teman ana..

  24. Abu Fikri -baarakallah fiik-
    آمين. Silakan

  25. hafidz mengatakan:

    artikel yg menarik, izin share akhi,

  26. [...] Rahasia اللام dan العين dalam doa pernikahan. [...]

  27. abu faruq mengatakan:

    Assalamu’alaikum akhi..ana baru aja kenal sama manhaj salaf..ana butuh sekali pendapat akhi..ana ada kemusykilan..udah ana kirim pertanyaan pada para asatidz..tapi sampai sekarang belum dibalas…ana udah rujuk di situs-situs sunnah utk cari solusinya..namun nggak ketemu…ana juga tiada sahabat yang b’manhaj salaf..jadi besar harapan ana kl akhi dapat bantu ana…gini akhi…

    1)ana mau nanya, gimana adab-adab ta’aruf?

    2)ana mau melamar seorang akhwat. bolehkah ana menggunakan perantara sahabat ana (lelaki) yang belum menikah kerana ana nggak tau gimana lagi caranya mau sampaikan hajat pada akhwat tersebut memandangkan ana tidak kenal kaum kerabat akhwat tersebut.

    3) bolehkah hadis dimana Rasulullah mengutus hathib bin ali baltaah r.a utk melamar Ummul Mu’minin Ummu Salamah dijadikan dalil bagi perbuatan ana dalam melamar akhwat tersebut?
    namun ana musykil ttg syarah hadis di atas…bisa utk janda sahaja kah? ana mau melamar anak gadis…jadi bisa nggak ana guna hadis t’sebut?

    jazakallah ya akhi fillah..

  28. Wa’alaikumussalaam.
    1) Kalau kita cermati biografi salaf, kita dapat mengetahui bahwa ketika ada pemuda ingin menikahi wanita, ia langsung berbicara kepada orang tua/wali wanita, dan tidak ke wanita itu). Kemudian, si wali menyatakan persetujuan/tidak, atau si wali minta pertimbangan wanita, apakah mau dengan lamaran si pemuda/tidak. Jadi, tidak ada istilahnya pemuda saling kenalan DENGAN CARA ngobrol, berduaan dengan si wanita. Oleh karena itu, jika Anda tertarik pada wanita x, langsung saja hubungi orang tuanya untuk melamar. Dalam kondisi ini, Anda harus siap ditolak si wanita tadi (yang disampaikan melalui ortu/walinya), atau ditolak langsung ortu/walinya. Ingat, nikahnya wanita harus persetujuan walinya.

    2) Pada asalnya, tidak masalah jika Anda mengutarakan niat Anda melalui shahabat Anda, asal amanah dan aman dari fitnah.

    3) bahkan, TIDAK MELALUI PERANTARA juga BOLEH. Artinya, Anda langsung menyampaikan niat Anda pada si wanita tersebut. Komunikasi dengan lawan jenis -dalam kasus ini boleh- karena ada hajah. Adapun hajah Anda adalah ingin menikahi wanita tersebut.
    Namun catatan penting: Komunikasi dengan si wanita tadi hanya boleh sebatas “hajah”. Maka, jika sudah menyampaiakn niat Anda pada si wanita (dan misalnya diterima), Anda harus segera meminta si wanita untuk meminta izin walinya/Anda yang datangi walinya untuk segera membahas “pernikahan” dan tidak diperbolehkan saling sms/chatting/facebook-an dengan si wanita jika tidak ada hajah. Lihat fatwa ulama dalam masalah korespondensi ta’aruf di artikel blog ini sebelumnya, >>>di sini<<<

  29. abu faruq mengatakan:

    jazakallah akhi atas jawapannya..

    “Oleh karena itu, jika Anda tertarik pada wanita x, langsung saja hubungi orang tuanya untuk melamar”.. wanita di sini jika statusnya janda perlu melalui wali juga?

    jadi kesimpulannya disini ana boleh m’gunakan cara yang kedua (melalu sahabat ana)..

    barokallahu fiik..

  30. Wa fiika baarakallah
    1) Gadis/janda, harus dengan izin wali.
    2) Kalau boleh, ya boleh. Namun, saya tidak menyarankan demikian. Anda harus bisa memastikan shahabat Anda aman dari fitnah (itu harus anda jawab sendiri dengan jujur, boleh jadi, shahabat Anda -yang juga belum nikah itu- malah bisa yang tertarik dengan wanita tsb, bagaimana?). Saya menyarankan, Anda menghubungi orangtua wanita langsung, lebih aman dari fitnah.

  31. madjid mengatakan:

    mohon ijin menyalin . terima kasih
    jaza khoiron

  32. mustofa arie mengatakan:

    ikut ngopy. jaza khoiron

  33. ulis mengatakan:

    ijin Copas akhy

  34. ummuddarda mengatakan:

    ana juga izin mengcopy ya…
    artikel yang sangat bagus

  35. pulzzahut mengatakan:

    artkel bagus. boleh buat kliping doa saya buat dirumah. thanks

  36. horiyaa mengatakan:

    asalamualaikum,,makasih artikel nya,amat bgus,,numpah sher.ya akhi mksih

  37. Arys Hidayat mengatakan:

    Assalaamu’alaikum..Mohon ijin meng copy

    Salam,
    Arys Hidayat
    ++++
    Alhamdulillah, berhasil saya copy

  38. Wa’alaikumussalaam.
    Silakan …

  39. Novi Efendi Blog mengatakan:

    assalaamu’alaykum…
    Bagus-bagus artikel disini… bikin betah berlama2…

  40. Wa’alaikumussalaam.
    Ahlan wa sahlan.

  41. Nina mengatakan:

    assalamu ‘alaikum, ijin share.

  42. Wa’alaikumussalaam. Silakan.

  43. joe mengatakan:

    subhanalloh bagus, ijin copas ustadz

  44. abufatih mengatakan:

    Saya minta Izin copy & share..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat email Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 147 pengikut lainnya.

My Twitter

Copyright

“Aku akan merasa bahagia, jika semua orang mempelajari ilmu ini, dan sama sekali tidak menyandarkannya padaku.” -Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i-

Milis Sunni Homeschooling

YM: ginanjar.indrajati

Perhatikan Temanmu

صديقي من صادقني لا من صدقني وعليك بمن ينظر الإفلاس والإبلاس وإياك من يقول لا باس لا باس. Teman baikku adalah orang yang jujur kepadaku, bukan orang yang suka membenarkanku. Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan akan kerugian-kerugian. Dan hati-hatilah terhadap orang yang suka mengatakan: Tidak mengapa… Tidak mengapa…
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 147 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: