وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ
لأَبَى السَّلاَمَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِيْ
وَلَأَعْرَضُوْا عَنِّيْ وَمَلُّوْا صُحْبَتِيْ
وَاللهِ لَوْ عَلِمُوْا قَبِيْحَ سَرِيْرَتِيْ
لأَبَى السَّلاَمَ عَلَيَّ مَنْ يَلْقَانِيْ
وَلَأَعْرَضُوْا عَنِّيْ وَمَلُّوْا صُحْبَتِيْ
[Renungan untuk Ikhwan-Akhwat Pengguna Facebook: bagian I]

Penyusun: Abu Muhammad Al-Ashri
Muraja’ah dan koreksi ulang: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar
.
Akhi…
Bila kita sempatkan diri kita untuk membaca sejarah hidup para pendahulu kita yang shalih mulai dari masa shahabat hingga para ulama salafi, niscaya kita dapati akhlak, adab, dan ketegasan mereka yang menakjubkan. Baca entri selengkapnya »
Alhamdulillah, satu lagi website dakwah dari salah satu Ustadz Salafi ikut menyemarakkan dunia maya, Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf.
Silakan kunjungi website beliau di www.ahmadsabiq.com
Nasehat Untuk Para Istri

Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf
A. PENGANTAR
Terasa tidak adil kalau ada sebuah ketidak harmonisan dalam sebuah rumah tangga lalu kita limpahkan tanggung jawab pada salah satunya saja, karena harus diakui minimalnya suami maupun istri punya andil didalamnya.
Kisah yang saya sebutkan diawal pembahasan pada edisi lalu tentang para ibu-ibu yang memakan daging suami mereka sendiri dalam suasana obrolan mereka dengan lainnya tidak mesti hanya kesalahan suami mereka, bahkan sangat mungkin si suami sudah berbuat yang benar namun si istri lah yang tidak pernah mengerti dan memahami.
Maka pada edisi ini saya tujukan untaian nasehat ini kepada para istri, semoga semuanya bisa menjalankan apa seharusnya dia kerjakan, sehingga yang lainnya akan mendapatkan apa yang seharusnya di dapatkan.
Wallohul Muwaffiq
.
B. TERIMA KODRATMU DAN PAHAMILAH POSISIMU
Semoga Alloh merohmati orang yang bisa menempatkan dirinya pada tempatnya yang tepat, saat sebagai suami dia mengetahui bahwa dia adalah seorang suami yang wajib mempergauli istrinya dengan baik, demikian juga tatkala dia sebagai istri, dia mengetahui hak dan kewajiban serta tanggung jawabnya yang besar dengan benar.
Sangat miris hati ini tatkala ada sebagian istri yang mengatakan :
“Enak ya jadi suami, setiap hari keluar rumah, bisa berganti-ganti suasana, berbeda dengan istri yang setiap hari di rumah dan hanya berkutat dengan dapur dan anak.”
Atau kalimat yang senada
Ketauhilah wahai ukhtil muslimah !!!
Alloh Ta’ala dan Rosululloh telah menempatkanmu pada posisi yang mulia. Perhatikanlah hadits berikut ini : Baca entri selengkapnya »
Untukmu Wahai Para Suami

disusun oleh:
Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf
.
I. PENGANTAR
Kalau selama ini kehidupan rumah tangga dinamakan dengan sebuah bahtera itu mungkin ada benarnya, karena dalam sebuah keluarga tidak akan ada yang selamat dari adanya riak-riak kecil gelombang lautan yang dihembuskan angin sepoi-sepoi sampai adanya sebuah badai yang dasyat. Bersatunya dua insan yang punya karakteristik, latar belakang, pendidikan, mental dan lainya yang mungkin serba berbeda akan banyak menimbulkan banyak gesekan. Dari sinilah maka sebuah pertengkaran kecil, perseteruan unik dalam keluarga sudah dianggap sebagai bumbu pelengkap kelezatan hidup dalam kebersamaan.
Namun, kalau hal itu tidak diatasi dan disikapi dengan bagus dan arif, maka yang namanya pertengkaran kecil itu akan menjadi sebuah bumerang yang terkadang bisa mengkandaskan bahtera itu sebelum sampai pada cita-cita impian bersama.
Sangat miris hati ini saat mendengar bahwa para ibu-ibu banyak yang memakan daging suami mereka sendiri. Banyak suasana ngobrol yang seharusnya bisa diisi dengan hal-hal yang lebih bermanfaat, malah menjadi lainnya. Terdorong untuk menasehati sesama muslim karena memang agama ini adalah nasehat, maka hati inipun tergerak untuk menggugah dan tangan inipun mulailah menorehkan untaian kata-kata ini.
Pada awalnya saya agak bingung dari siapa saya harus memulai, apakah dari suami ataukah istri, karena saya yakin masalah ini tidak bisa dibebankan pada salah satu saja, namun karena saya adalah laki-laki yang juga suami, maka lebih baiknya kalau saya mulai dari jenisku sendiri para kaum suami.
Bacalah, resapilah lalu renungkanlah mudah-mudahan ini bisa menjadi setitik obat bagi sebuah luka dan semoga rumah tangga menjadi penuh dengan berkah baik saat senang maupun susah, baik saat lapang maupun sempit.
.
B. PAHAMILAH KARAKTER ISTRIMU
Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa Muhammad seorang Rosul nan mulia telah menghabarkan kepada kita kaum laki-laki tentang siapa sebenarnya seseorang yang selalu mendampingi kita dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam sebuah gambaran yang sangat indah beliau pernah bersabda : Baca entri selengkapnya »
sumber: [www.ustadzaris.com]

Pertanyaan:
Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi main internet dan ngobrol (chatting). Aku hampir tidak pernah chatting dengan cewek. Jika terpaksa aku chatting dengan cewek maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.
Kurang dari setahun yang lewat ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu meminta no hp-ku. Aku katakan bahwa aku tidak mau menggunakan hp dan aku tidak ingin membuat Allah murka kepadaku.
Dia lalu mengatakan,
“Engkau adalah seorang pemuda yang sopan dan berakhlak mulia. Aku akan bahagia jika kita bisa berkomunikasi secara langsung”.
Kukatakan kepadanya,
“Maaf aku tidak mau menggunakan HP”.
Kemudian dia berkata dengan nada kesal, “Terserah kamulah”.
Selama beberapa bulan kami hanya berhubungan melalui chatting.
Suatu ketika dia mengatakan,“Aku ingin no HP-mu”.
“Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kepadamu bahwa aku tidak mau menggunakan HP”, jawabku. Baca entri selengkapnya »
Abstrack
At the ends of noun and adjectives, when indefinite, the vowel signs are written double, thus ُ ٍ ً . This means taht they are to be pronounced with a final “n”, un, an, in. This called تنوين /tanwin/ or nunation, e.g. باَبٌ /baabun/, باَباً /baaban/, باَبٍ /baabin/, “a door’. Note that with fatha, the letter ‘alif is added. But if the word ends in ta` marbutha, the ‘alif is not added, as خليفة /khalifatan/ “caliph”.
When a noun or an adjective is indefinite it carries Nunation, which is any of the short vowels plus /n/ sound.
(a) -ٌٌ indicates Nominative case as in استاذةٌ
(b) -ً indicates Accusative case as in استاذةً
(c) -ٍ indicates Genitive case as in استاذةٍ
Please notice that the accusative Nunation -ً is always written on ( ا ) as in بيتاً. An exception to that is when the final consonant is either the feminine marker, Taa’ MarbuTa طالبة ً, or Hamza, سماءً
—————–
Dalam bahasa Arab, dikenal adanya bunyi /n/ yang pada umumnya dapat ditemui pada akhir nomina (kata benda) yang indefinit (tidak tentu). Bunyi tersebut diabstraksikan dengan tanda ً – ٍ – ٌٌ /an – in – un/. Ketiga tanda itu, disebut dengan istilah TANWIN “nunasi”.
Khusus nomina yang berkasus akusatif, penulisan tanwin (nunasi) adalah dengan menambahkan huruf ا /alif/. Namun, jika huruf akhir nomina tersebut terdapat tanda feminin ة (ta’ marbuthah) atau ء (hamzah), penulisan nunasinya adalah tanpa dengan ا (alif).
Contoh:
رَأَى عُمَرُ رَجُلاً /ro`aa – ‘umaru – rojulan/ “Melihat – Umar – seorang laki-laki”
(Umar melihat seorang laki-laki).
Nomina akusatif dalam klausa di atas adalah رَجُلاً /rojulan/ “seorang laki-laki”.
Penutup
Pembaca mulia, mudah kan? Namun, mungkin di antara pembaca ada yang bingung dengan istilah akusatif. Insya Allah, ini akan dibahas dalam kajian mendatang (semoga dimudahkan Allah). Hanya saja, sekadar “tips singkat”, untuk mempermudah pemahaman saat ini, anggap saja semua posisi obyek adalah akusatif. Jadi, setiap obyek pasti berkasus akusatif.
Anda tentu ingat subjek – predikat – obyek kan?
—bersambung—
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Diberitahukan kepada kaum muslimin, khususnya pembaca situs pribadi Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi, bahwa alamat situs Ustadz Abu Ubaidah pindah ke www.abiubaidah.com . Semoga situs ini bermanfaat bagi kita semua. آمين
و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
A. Vokal dalam Bahasa Arab
Pada dasarnya, bahasa Arab tidak mengenal huruf hidup (vocal), tetapi tanda baca (yang disebut شَكْل atau حَرَكَة , syakl, harakah). Ada empat tanda baca, yaitu:
B. Konsonan dalam Bahasa Arab
Dalam bahasa Arab, konsonan dibaca dengan aturan-aturan tertentu. Untuk memandu dalam pembacaan konsonan tersebut, diperlukan ilmu Morfologi Arab (sarf) dan sintaksis Arab (nahw).
Pembacaan konsonan secara morfologis lebih banyak dilakukan secara arbiter sesuai pengucapan oleh orang Arab ( سَِمَاعِيّ , sima‘iy, sama‘iy). Pembacaan secara morfologis diakukan pada konsonan yang tidak terletak di akhir kata. Untuk konsonan yang berada di bagian akhir kata, dilakukan pembacaan secara sintaktik. Pembacaan sintaktik terkait dengan adanya deklensi (i‘rab, إِعْرَاب ), yaitu perubahan pada akhir kata karena masuknya faktor-faktor tertentu dalam suatu satuan tuturan.
C. Deklensi dan Kasus dalam Bahasa Arab
Deklensi itu terdiri atas empat macam kasus, yaitu
D. Kategori Kata dalam Bahasa Arab
Bila kita berbicara tentang deklensi, kita tidak bisa terlepas dari pembicaraan mengenai kategori kata dalam bahasa Arab. Kata-kata dalam bahasa Arab terbagi menjadi tiga, yaitu:
Dari ketiga macam kata di atas, deklensi hanya terjadi pada nomina dan verba. Namun, perlu dicatat bahwa ADA NOMINA DAN VERBA YANG TIDAK MENGALAMI DEKLENSI.
Nomina dan verba yang tidak mengalami deklensi disebut mabniy ( مَبْنِيّ )
Adapun nomina dan verba yang mengalami deklensi disebut mu‘rab ( مُعْرَب ).
Deklensi pada nomina terjadi dalam tiga kasus, yaitu nominatif, akusatif, dan genitif, Deklensi pada verba juga terjadi dalam tiga kasus, yaitu nominatif, akusatif, dan jusif. Partikel selamanya mabniy.
Kasus deklensi pada tiap kata dapat diidentifikasi dari tanda-tandanya. Setiap kasus memiliki tanda-tandanya sendiri. Nomina dan verba mengalami deklensi sesuai dengan fungsinya dalam kalimat. Distribusi kasus deklensi dan tanda-tanda deklensi akan dijelaskan dalam kesempatan berikutnya.
—bersambung—
Ustadz Abu Ubaidah yang Kukenal…
disusun oleh:
Abu Muhammad Al-’Ashri
A. Pengantar
Pembaca mulia, mungkin di antara pembaca, banyak yang bertanya-tanya, siapa itu Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi? Na’am, ketika awal mula blog ini dibuat, tercatat ratusan orang mengklik halaman “Tentang Ustadz” (sekarang kami ganti “Biografi Ustadz“). Kami memohon maaf apabila halaman tersebut kosong cukup lama. Perlu pembaca ketahui bahwa Ustadz Abu Ubaidah sebenarnya enggan dan malu menulis risalah biografi yang menceritakan dirinya sendiri. Kamilah yang terus menerus mendesaknya. Kami berharap agar apa yang beliau ceritakan dari perjalanan beliau menuntut ilmu, dapat menjadi contoh bagi kita semua, khususnya kita yang masih muda. Ini karena aktivitas thalabul ilmi yang beliau jalani, dimulai semenjak beliau masih kecil. Dan di saat beliau masih dikatakan sebagai pemuda, beliau sudah memasuki dunia dakwah, khususnya dakwah dengan tulisan-tulisan beliau di Majalah Al-Furqon. Kami sangat berharap agar kita, khususnya yang masih muda, dapat meniru kesungguhan beliau dalam ilmu, amal dan dakwah. Betapa sangat disayangkan, kita melihat kebanyakan anak muda kaum muslimin (mudah-mudahan Allah memperbaiki kita semua) terbuai dalam hal sia-sia atau terlena dalam urusan dunia. Selain itu, ditulisnya biografi ini adalah untuk menjawab pertanyaan saudara-saudara yang “anti salafi” yang menanyakan, Siapa ini “Abu Ubaidah”?
Beberapa isi pokok biografi beliau adalah dari risalah beliau sendiri yang ditulis pada 15 Syawal 1430, yang dikirimkan ke email saya. Kemudian, saya edit, saya tambah dan saya susun ulang dengan harapan dapat dengan mudah diterima pembaca. Baca entri selengkapnya »
Sekitar dua tahun yang lalu, saya mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan diskusi dengan salah satu tokoh pendidikan, seorang Doktor lulusan salah satu Universitas terkemuka di USA. Ada banyak hal yang ia bicarakan. Ia memfokuskan bahasan bahwa seseorang itu harus terlepas dari belenggu agar dirinya bisa berkembang. Setelah itu, sang Doktor pun bertanya kepada salah satu mahasiswi berjilbab, yang juga diundang dalam acara tersebut. Baca entri selengkapnya »
sumber: [ http://studi.stai-ali.ac.id/ ]
I. Pengantar Admin
Pembaca mulia, di antara musibah yang tersebar di tengah-tengah kaum muslim pada masa sekarang ini adalah mulai menipisnya rasa malu. Betapa tidak, apa yang dianggap tabu di masa salaf kini dianggap sebagai hal yang biasa. Apalagi, saat ini kita dihadapkan dengan arus teknologi yang demikian dahsyat. Allahu musta’an, sarana-sarana menuju pintu kemaksiatan demikian mudah didapat dengan biaya yang murah. Seiring dengan itu, rasa malu semakin terkikis, rasa cemburu pun ikut menipis, dan manusia pun semakin terjerumus dalam pelanggaran, tanpa merasa bahwa mereka berbuat dosa. Coba anda perhatikan di antara kawan-kawan Anda, atau bahkan teman ngaji anda. Siapa di antara mereka yang akun facebooknya bersih dari teman lawan jenis? Siapa di antara mereka yang membersihkan akun FBnya dari gambar-gambar makhluk bernyawa yang terlarang? Inilah realita yang terjadi, wallahu musta’an. Akhirnya, manusia pun menjadi lupa batasan syari’at dalam saling berkomunikasi kepada lawan jenis. Maka, tidak sedikit yang terjerumus ke dalam perbuatan pacaran, meskipun sebagiannya berdalih dengan alasan ta’aruf. Inna lillah! Maka, tukar foto pun menjadi hal yang dianggap biasa oleh kebanyakan orang, bahkan di antaranya dilakukan oleh sebagian yang sudah kenal ngaji. Ya Allah, sesungguhnya kuadukan mereka hanya kepada-Mu.
Saya teringat nasehat shahabat saya, al-akh al-ustadz Ibnu (pengajar hafalan kitab-kitab aqidah di Ma’had Al-Irsyad tengaran) yang mengatakan,
“Sesungguhnya anugerah Allah tidak akan diraih dengan cara maksiat”
Engkau benar sekali wahai shahabatku – بارك الله فيك -.
Thoyyib ikhwaaan. Silakan kalian add sebanyak-banyaknya akhwat di akun kalian! Silakan kalian berta’aruf dengan wanita yang kalian suka!!! Adapun kami, walhamdulillah, akan katakan sebagaimana yang sering dikatakan orang Arab terdahulu,
إذا سقط الذباب على طعام … رفعت يدي و نفسي تشتهيه
و تجتنب الأسود ورود ماء … إذا كان الكلاب ولغن فيهJika lalat jatuh ke makanan, maka tangan ini mengangkatnya,…
Walaupun diri ini menginginkannnya…
Dan singa akan menjauhi aliran air,
Jika air itu pernah dijilat anjing….
Sebagai nasehat dan renungan, saya nukilkan sebuah risalah yang ditulis oleh salah satu shahabat terbaik saya, teman
KKN, teman ngaji, teman diskusi, sekaligus guru saya dalam kitab Qowa’idul Hisan karya Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Al-Akh Abu Halim Aditya Budiman, yang beliau tulis di blog wisma Al-Hijroh http://alhijroh.co.cc/ Beliau membahas masalah yang kini mulai menjamur di tengah-tengah kaum muslimin, yaitu PACARAN. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan yang banyak. Baca entri selengkapnya »

General Routine Studies, LIVE VIA http://radiomuslim.com
Implementation
* Speaker: Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar (http://ustadzaris.com)
* Day: Routine every Saturday-Sunday (beginning on October 10, 2009)
* Time: 05.30 – 07.00 WIB
* Venue: Masjid Al-’Ashri Pogung Rejo
General Description:
* Open to Public
* Participants must not have the ability to read a book in Arabic Without harokat
* Participants who had been following the activities of Arabic Islamic School Umar ibn al-Khatthab advisable to follow the study by using the original book.
* Book is used as a guide is Al-Tibyaan fi Adab Hamalatil-Qur’an
* Author: Imam Abu Zakariya An-Nawawi
——————————————————————-
Kajian Rutin Umum, LIVE VIA http://radiomuslim.com
Pelaksanaan
Keterangan Umum:
Terbuka untuk Umum, Putra – Putri
Kitab bisa didownload via http://alashree.wordpress.com
Informasi:
http://ustadzaris.com
http://alashree.wordpress.com (+ download kitab)
http://radiomuslim.com (siaran langsung via streaming)
http://muslim.or.id
http://muslimah.or.id
http://ypia.or.id
Download Kitab At-Tibyan di sini:
Penyelenggara: Takmir Masjid Al-Ashri & Forum Penulis Muslim, bekerjasama dengan Takmir Masjid Pogung Raya dan Pengurus Radiomuslim jogja
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Insya Allah, kajian rutin adab dan akhlak di Masjid al-Ashri dimulai kembali setelah kita libur hari raya iedulfitri 1430 H.
Keterangan:
Kitab dapat didownload di sini:
Abu Muhammad Al-’Ashri,
6 Syawal 1430 H
لو كنت تعلم ما أقول عذرتني
أو كنت أعلم ما تقولو عذلتكا
لكن جهلت مقالتي فعذلتني
و علمت أنك جاهل فعذرتك
Andai ‘kau paham apa yang kuucapkan,
Niscaya ‘kau ‘kan maafkan diriku…
Atau ‘ku tahu ucapanmu,
Maka ‘ku kritik dirimu…
Namun, ‘kau ‘tak pahami untaian kataku,
Hingga ‘kau cela diriku…
Dan ‘ku tahu dikau bodoh,
Maka ‘ku maafkan dirimu…..!
[Puisi Khalid bin Ahmad Al-Farahidi, ahli nahwu pencetus ilmu ‘arudh. Lihat syair ini di kitab الوافي و الوفيات , halaman 1884 dan kitab مجمع الحكم و الأمثال, keduanya via software المكتبة الشاملة]
alashree.wordpress.com
Assalamu’alaikum.
Diberitahukan kepada Kaum Muslimin, bahwa Insya Allah mulai tahun ini di masjid Al-’Ashri akan diadakan I’tikaf sepuluh hari Terakhir bulan Ramadhan. Adapun Perinciannya sebagai berikut:
> Waktu Pelaksanaan: Rabu, 9 September – Jumat 18 September 2009
(10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan)
> Pendaftaran: Rp 15.000,00 (termasuk fasilitas)
> Kaum Muslimin yang ingin mengikuti kegiatan i’tikaf ini, dipersilakan mendaftar langsung kepada Takmir Mahasiwa Masjid Al-’Ashri (Abu Muhammad).
> Fasilitas:
> Khusus Putra
> Informasi: Abu Muhammad 081.328.319.185
( nomor hanya sebagai informasi, adapun yang dianggap sebagai pendaftar adalah yang datang mendaftar langsung ke Masjid Al-’Ashri)
> CATATAN:
[artikel facebook, yang penulis posting di (Forum Diskusi) Belajar Bahasa Arab dan Diniyyah, pada 15 Juli 2009, pukul 21:48]
Salafusshalih (orang-orang terdahulu dari kalangan umat Islam yang shalih) memiliki segudang akhlak mulia yang “barangkali” sudah sangat jarang ditemui di masa sekarang ini. Maka, dalam risalah ini, saya coba susun beberapa akhlak mulia mereka agar bisa menjadi perenungan bagi kita semua. Sudahkah kita memiliki akhlak mereka?
I. Salaf tidak Mencari-Cari Keburukan Muslim yang lain…
Seorang salaf, yang bernama Sahal ibn ‘Abdillah berkata, “Jangan suka mencari-cari kekurangan orang lain dankeburukan akhlaknya. Akan tetapi, cari dan telitilah bagaimana kondisi Anda di dalam akhlak Islam, sehingga Anda selamat dan bisa menghormati kedudukannya di dalam diri Anda dan di sisi Anda” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, IV/279 ].
II. Salaf Senantiasa Berwajah Ceria terhadap Orang Lain
Urwah bin Zubair, murid shahabat Nabi, berkata, “Tertulis di dalam hikmah, “Ucapkanlah kata-kata yang baik dan tampilkanlah wajah yang cerah. Niscaya Anda lebih dicintai orang daripada mereka yang memberikan banyak hadiah.” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, II/178 ]
[catatan facebook yang di posting di (Forum Diskusi) Belajar Bahasa Arab dan Diniyyah pada 27 Juli 2009, 08:17 WIB ]
Penyuntingan Kalimat Rancu (bagian I): Pengacauan Dua Buah Kalimat yang Benar
Setiap kalimat dapat dipandang sebagai kalimat rancu apabila kalimat tersebut menyimpang dari kaidah tata kalimat. Penyimpangan ini dapat menyebabkan pembaca sukar mengidentifikasi mana subjek dan mana predikat suatu kalimat. Di samping itu, pembaca juga kan akesulitan dalam menentukan hubungan keterangan tambahan dan bagian kalimat yang lain, karena susunan kalimat tersebut yang tidak jelas.
Di antara penyebab kerancuan kalimat adalah penulis artikel mengacaukan dua buah kalimat yang benar. Maksudnya, sebenarnya sudah ada dua tipe kaliamt yang benar. Akan tetapi, penulis artikel kurang memahami kaidah penyusunan kalimat sehingga ia memunculkan tipe kalimat lain dari tipe kalimat yang benar itu. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh kalimat rancu berikut ini -diberi tanda asterisk (*)-:
(1) *Dari fenomena masyarakat sekarang yang bersyahadat tetapi masih mencari berkah dari kotoran kerbau Kyai Slamet menunjukkan bahwa kesyirikan pada zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan pada zaman jahiliyyah. Baca entri selengkapnya »
[ Catatan penulis di facebook yang diposting di (Forum Diskusi) Belajar Bahasa Arab dan Diniyyah, pada 15 Juli 2009, 07:17 ]
Asy-Syaikh Abu Abdirrahman Yahya, dalam kitab beliau حشد الأدلة على أن اختلاط النساء بالرجال و تجنيد هنّ من الفتن المضلّة, menceritakan kisah unik dari pengalaman beliau berdakwah di Inggris.
Beliau bercerita, “Aku teringat dengan satu peristiwa yang demi Allah aku takutkan peristiwa itu akan meninpa seorang muslim yang memiliki hikmah, iman, dan kelunakan hati untuk TAKUT kepada Allah ‘azza wa jalla dan selainnya. Peristiwanya terjadi ketika aku mengadakan perjalanan dakwah ilallah dalam rangka mengajari sebagian kaum muslimin di Britania (Inggris). Baca entri selengkapnya »